Selasa, 20 Desember 2011

nilai

awal nilai yang baik
biarpun dapat b+, tapi harus tetap bersyukur..
semoga nilai nilai yang lain bagus-bagus juga nilainya..

Jumat, 09 Desember 2011

pulang

waktunya untuk pulang kampung selesai uas nanti..
sudah hampir setahun ga pulang2,,
heheh..
sampai jumpa lagi kawan-kawan..



Hama gudang beras (Oryza sativa)


Hama gudang pada beras
Hama gudamg mempunyai sifat yang khusus yang berlainan dengan hama-hama yang menyerang dilapangan, hal ini sangant berkaitan dengan ruang lingkup hidupnya yang terbatas yang tentunya memberikan pengaruh factor luar yang terbatas pula.Walaupun hama gudang (produk dalam simpanan) ini hidupnya dalam ruang lingkup yang terbatas, karena ternyata tidak sedikit pula Janis dan spesiesnya, yang masing-masing memiliki sifat sendiri, klasifikasi atau penggolongan hama yang menyerang produk dalam gudang untuk lebih mengenalnya dan lebih mudah mempelajarinya telah dilakukan oleh para ahli taxonomi.
Yang dimaksud dengan klasifikasi atau penggolongan ialah pengaturan individu dalam kelompok, penyusunan kelompok dalam suatu sistem, data individu dan kelompok menentukan hama itu dalam sistem tersebut. Letak hama hama dalam system sudah memperlihatkan sifatnya.
Umumnya hama gudang yang sering dijumpai adalah dari golongan Coleoptera, misalnya Tribolium castaneum, Sitophilus oryzae, Callocobruchus spp, dll. Pada praktikum, komoditas pasca penen yang diamati adalah beras, kopi, kacang tolo, kacang hijau, dan kedelai. Hama gudang yang ditemukan pada komodits tersebut adalah Tribolium castaneum, Sitophilus oryzae, Callocobruchus spp. Pada beras, ditemukan Tribolium castaneum dan Sitophilus oryzae, pada komoditas kedelai ditemukan Tribolium castaneum, pada kopi ditemukan Callocobruchus spp, pada kacang tolo ditemukan Sitophilus oryzae dan Callocobruchus spp, dan pada komoditas kacang hijau ditemukan Tribolium castaneum.
Produk pasca penen merupakan bagian tanaman yang dipanen dengan berbagai tujuan terutama untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi petani maupun konsumen. Produk dalam simpanan ini tidak terlepas dari masalah organisme pengganggu tumbuhan terutama dari golongan serangga hama. Hama yang menyerang komoditas simpanan (hama gudang) mempunyai sifat khusus yang berlainan dengan hama yang menyerang tanaman ketika di lapang.
Hama yang terdapat dalam gudang tidak hanya menyerang produk yang baru saja dipanen melainkan juga produk industri hasil pertanian. Produk tanaman yangdisimpan dalam gudang yang sering terserang hama tidak hanya terbatas pada produk bebijian saja melainkan produk yang berupa dedaunan (teh, kumis kucing, dan lain sebagainya) dan kekayuan atau kulit kayu misalnya kayumanis, kulit kina, dan lainnya (Kartasapoetra, 1987).
Hama yang terdapat dalam acara praktikum diantaranya:
1. Tribolium castaneum
Hama ini juga disebut hama bubuk beras, bubuk Tribolium bukan hama yang khusus menyerang beras atau tepungnya. Pada kenyataannya, dimana pada komoditas beras ditemukan hama Sitophilus oryzae, pasti akan ditemukan juga hama bubuk ini. Hama Tribolium hanya memakan sisa komoditas yang telah terserang hama Sitophilus oryzae sebelumnya yang berbentuk tepung (hama sekunder). Hama ini tidak hanya ditemukan dalam komoditas beras, tetapi juga terdapat pada gaplek, dedak, beaktul yang ada di toko maupun di rumah.
Kumbang dewasa berbentuk pipih, berwarna cokelat kemerahan, panjang tubuhnya ± 4 mm. Telur berwarna putih agak merah dengan panjang ± 1,5 mm. larva berwarna cokelat muda dengan panjang ± 5-6 mm. pupa berwarna putih kekuningan dengan panjang ± 3,5 mm. kumbang betina mampu bertelur hingga 450 butir sepanjang siklus hidupnya. Telur diletakkan dalam tepung atau pada bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan kecil (remah). Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki thorakal. Larva akan mengalami pergantian kulit sebanyak 6-11 kali, tidak jarang pula pergantian kulit ini hanya terjadi sebanyak 6-7 kali, ukuran larva dewasa dapat mencapai 8-11 mm. menjelang terbentuknya pupa, larva kumbang akan muncul di permukaan material, tetapi setelah menjadi imago akan kembali masuk ke dalam material. Seklus hidup dari kumbang ± 35-42 hari.
Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan oleh hama ini dapat dilakukan dengan melakukan penjemuran terhadap komoditas simpanan pada waktu tertentu dengan pengeringan yang sempurna. Selain itu juga dapat dilakukan fumigasi terhadap produk pasca penen dengan menggunakan fumigan yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.

2.Kumbang Beras (Sitophilus oryzae)
Kumbang beras (Sitophilus oryzae) dewasa berwarna coklat tua, dengan bentuk tubuh yang langsing dan agak pipih. Pada bagian pronotumnya terdapat enam pasang gerigi yang menyerupai gigi gergaji. Bentuk kepala menyerupai segitiga. Pada sayap depannya terdapat garis-garis membujur yang jelas. Terdapat 4 bercak berwarna kuning agak kemerahan pada sayap bagian depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh kumbang dewasa ± 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya. larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini tampak seperti kumbang dewasa (WordPress, 2008).
Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat menghasilkan telur sampai 300-400 butir. telur diletakkan pada tiap butir beras yang telah dilubangi terlebih dahulu. Lubang gerekan biasanya dibuat sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan bantuan moncongnya adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia telur berlangsung selama ± 7 hari. Larva yang telah menetas akan langsung menggerek butiran beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan tetap berada di lubang gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di dalam lubang selama ± 5 hari. Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama ± 31 hari. Panjang pendeknya siklus hidup ham ini tergantung pada temperatur ruang simpan, kelembapan di ruang simpan dan jenis produk yang diserang (WordPress, 2008).
Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Coleoptera Family Curculionidae, Genus Sitophilus, Spesies Sitophilus oryzae (Wikipedia, 2008).Sitophilus oryzae dikenal sebagai bubuk beras (rice weevil). Hama ini bersifat kosmopolit atau tersebar luas di berbagai tempat di dunia. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini termasuk berat, bahkan sering dianggap sebagai hama paling merugikan produk pepadian. Hama Sitophilus oryzae bersifat polifag, selain merusak butiranberas, juga merusak simpanan jagung, padi, kacang tanah, gaplek, kopra, dan butiran lainnya.Akibat dari serangan hama ini, butir beras menjadi berlubang kecil-kecil, tetapi karena ada beberapa lubang pada satu butir, akan menjadikan butiran beras yang terserang menjadi mudah pecah dan remuk seperti tepung. Kualitas beras akan rusak sama sekali akibat serangan hama ini yang bercampur dengan air liur hama
Kumbang muda dan dewasa berwarna cokelat agak kemerahan, setelah tua warnanya berubah menjadi hitam. Terdapat 4 bercak berwarna kuningagak kemerahan pada sayap bagian depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh kumbang dewasa ± 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya. Apabila kumbang hidup pada jagung, ukuran rata-rata ± 4,5 mm, sedang pada beras hanya ± 3,5 mm. larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini tampak seperti kumbang dewasa.
Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat menghasilkan telur sampai 300-400 butir. telur diletakkan pada tiap butir beras yang telah dilubangi terlebih dahulu. Lubang gerekan biasanya dibut sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan bantuan moncongnya adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia telur berlangsung selama ± 7 hari. Larva yng telah menetas akan langsung menggerek butiran beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan tetap berada di lubang gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di dalam lubang selama ± 5 hari. Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama ± 31 hari. Panjang pendeknya siklus hidup ham ini tergantung pada temperatur ruang simpan, kelembapan di ruang simpan, dan jenis produk yang diserang.
Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus calandrae How (parasit larva), semut merah dan semut hitam yang berperan sebagai predator dari larva dan telur hama. Penagendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan penjemuran produk simpanan pada terik matahari, diharapkan dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan, dan dengan melakukan fumigasi terhadap produk yang disimpan.

3. Callocobruchus spp
Imago dari hama ini berbentuk bulat telur. Bagian kepala agak meruncing, pada elytra terdapat gambaran agak gelap. Pronotum halus, elytra berwarna cokelat agak kekuningan. Ukuran tubuh sekitar 5-6 mm. imago betina dapat bertelur hingga 150 butir, telur diletakkan pada permukaan produk kekacangan dalam simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari. Larva biasanya tidak keluar dari telur, tetapi hanya merobek bagian kulit telur yang melekat pada material. Larva akan menggerek di sekitar tempat telur diletakkan. Lama stadia lrva adalah 4-6 hari. Produk yang diserang akan tampak berlubang.
Pengendalian dapat dilakukan dengan melakukan fumigasi dan menggunakan musuh alami hama ini (Anisopteromalus calandrae dan semut hitam).
Intensitas serangan akibat hama dalam produk simpanan termasuk dalam kategori sedang, walaupun beberapa hama dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomi. Intensitas serangan pada komoditas kopi, kacang hijau, kacang tanah, kacang tolo, dan beras adalah 0,3 %, 0,13 %, 0,19 %, 0,29 %, dan 0,34 %. Intensitas serangan paling kecil terdapat pada komoditas kacang hijau dan intensitas tertinggi ada pada komoditas beras.
4. Tikus
Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus Rattus. Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1 pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2 pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul.
Beberapa spesies tikus merupakan hama yang mampu beradaptasi dengan kehidupan manusia.Jenis tikus yang menyerang tanaman padi maupun beras dalam penyimpanan adalah tikus sawah,tikus rumah dan mencit rumah (Boque, 1988, Priyambodo, 2005).Tikus disekitar gudang memiliki kerugian /kerusakan kuantitaf dan kualitatif
Meskipun seekor tikus hanya makan 20 g padi n beras per hari,tetapi kerusakan bisa mencapai lima kali lipat karna kebiasaan tikus mengerat agar gigi serinya tetap proposional.Penanganan dari paling efektifadalah menjagakebersihan gudang dan meminimalisasi tempat bersarang bagi tikus.
http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/images/stories/penyakit-hama/hama1.png
5. Burung
Klasifikasi
Kingdom    : Animalia
Phylum      : Chordata
Kelas         : Aves
Ordo          : Passeriformes
Famili         : Estrildidae
Genus       : Lonchura
Species     : Lonchura maja

Pada umumnya burung menimbulkan kerugian secara langsung dengan memakan padi.Aktivitas burung membuat sarang dalam bangunan sering kali membuat gudang penyimpanan menjadi kotor bekas sarang dan bulu-bulunya yang rontok.Spesial burung yang menimbulkan masalah digudang penyimpanan beras adalah burung hantu serak putih,burung gereja dan burung seriti ( van Vreden dan Ahmadzabidi, 1986; Caliboso ;1988). Usaha pengendalian yang paling efektif adalah mencegah masuknya burung kegudang penyimpanan dengan membuat kontruksi bangunan gudang, pemasangan penghalang dan selalu menjaga sanitasi gudang.



JENIS PENGENDALIAN HAMA :
Pengendalian serangga hama sitophilus oryzae dapat dilakukan dengan menggunakan Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus calandrae How (parasit larva), semut merah dan semut hitam yang berperan sebagai predator dari larva dan telur hama. Selain itu, penjemuran produk simpanan pada terik matahari merupakan salah satu cara pengendalian yang baik, karena dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan yang baik yang di tunjang dengan fasilitas penyimpanan lainnya , dan dengan melakukan fumigasi terhadap produk yang disimpan (Matnawy H, 2001).:
Upaya pengendalian hama tikus yang umum dilakukan adalah : pengemposan, pemberian racun, perangkap, dan penggunaan musuh alami. Berikut akan diuraikan tentang beberapa cara pengendalian hama tikus :
1. Pengemposan
Pengemposan dilakukan dengan cara memberikan asap belerang pada lubang-lubang tikus dengan tujuan agar tikus yang berada dalam lubang tersebut keracunan yang pada akhirnya akan mati. Cara ini cukup efektif dalam mengendalikan hama tikus secara langsung. Namun bila lokasi tikus berada jauh di dalam sedangkan gas belerang yang dimasukkan tidak mencapainya, cara ini tidak akan berhasil. Selain itu cara pengemposan ini cukup mahal.
2. Pemberian Racun
Penggunaan Racun adalah cara yang paling banyak digunakan petani dalam mengendalikan tikus. Saat ini telah banyak dijual berbagai jenis racun tikus dengan keunggulan masing-masing. Penggunaan racun ini dilakukan dengan memberikan rodentisida pada makanan tikus sebagai umpan. Hanya saja, penggunaan racun ini selain kurang efektif tetapi juga akan membunuh musuh alami yang memakan tikus ini.
3. Perangkap
Banyak alat-alat yang dapat dirancang untuk menangkap tikus. Dengan menggunakan perangkap ini selain murah, juga aman bagi manusia maupun bagi musuh alaminya. Namun demikian, pemakaian alat perangkap ini harus memperhatikan jenis umpan yang digunakan. Terkadang tikus jeli terhadap suatu umpan atau hapal pada suatu jebakan. Oleh kerana itu diperlukan adanya variasi umpan dan jebakan yang tidak mudah dihapal tikus. Penggunaan umpan yang mencolok seperti ubi-ubian yang dipasang pada tanaman palawija yang belum menghasilkan umbi akan menarik perhatian tikus. Beberapa perangkap tikus yang sering digunakan antara lain : perangkap kawat, perangkap jepit, jala kremat, lubang bambu, dan lain-lain.



Daftar Pustaka
http://dukeamienerev.blogspot.com/2011/04/petua--kutu-beras.htmla
http://obstetriginekologi.com/artikel/hama+pasca+panen+pada+beras.html


Selasa, 06 Desember 2011

Sabtu, 26 November 2011

Metodologi Penelitian


                                                                                                                             I.         KERANGKA BERFIKIR LMIAH
Mardalis (1999) dalam Santosa (2007), menyatakan bahwa manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang segala sesuatu. Hal yang membawa manusia ketingkat yang lebih baik dan lebih maju dari satu masa ke masa berikutnya.
Beberapa pakar menyatakan bahwa : (1) bahwa manusia itu mempunyai rasa ingin tahu, sedangkan di luar dirinya ada beberapa kejadian yang meransang. Kejadian yang meransang itulah merupakan persoalan (masalah). Hubungan antara ransangan dari luar dan hasrat ingin tahu itu merupakan penyebab manusia melakukan penyelidikan , dan (2) bahwa pada diri manusia ada kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan itu hanya bisa dicapai apabila ada pengetahuan tentang kebutuhan itu, maka diadakan penyelidikan guna mengetahui kebutuhan tersebut.
Akal budi dan sifat ingin tahu manusia, mendorongnya untuk melakukan penelitian, mengkaji fenomena yang terjadi di sekitarnya, melakukan pertimbangan, mengambil keputusan/kesimpulan dan melakukan evaluasi.

Pengetahuan (Knowledge) secara normatife, defenisi pengetahuan paling tidak meliputi :
·         Fakta, informasi, dan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan
·         Pemahaman secara teoritis atau praktis suatu bidang (studi), apa yang diketahui mengenai suatu bidang tertentu atau berkait dengan bidang-bidang lain secara keseluruhan
·         Fakta, informasi, dan kesadaran atau pengenalan yang diperoleh dari pengalaman menghadapi suatu fakta atau situasi
Pengetahuan diperoleh manusia, bersumber dari :
1.      Panca indra
2.      Perasaan
3.      Pikiran / rasio
4.      Intuisi
5.      Wahyu
Berdasarkan fungsi/kegunaannya, pengetahuan ada tiga macam, yaitu :
1.      Etika, agama, dan moral
ð  Membahas baik dan buruk
2.      Estetika dan seni
ð  Membahas indah dan jelek
3.      Logika, rasio, dan hasil pemikiran
ð  Membahas masalah benar dan salah
Pengetahuan hasil pemikiran ini bersifat objektif dan bisa diterima setiap orang, hal inilah yang menjadi kajian ilmu, yaitu untuk mencari kebenaran.
Macam-macam kebenaran ilmiah :
1.      Kebenaran koherensi
ð  Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Contoh : Semua mahasiswa Unand membayar SPP. Ali mahasiswa Unand, Ali membayar SPP.
2.      Kebenaran korespondensi
ð  Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Contoh : Unand di Padang
3.      Kebenaran pragmatis
ð  Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut mempunyai fungsional dalam kehidupan praktis.
Macam-macam kebenaran non ilmiah menurut Nazir (2005), yaitu :
1.      Kebenaran secara kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain dari takdir Allah. 
2.      Kebenaran secara common sense (akal sehat)
Common sense merupakan serangkaian konsep atau bagan konsepsual yang memuaskan untuk digunakan secara praktis. Kebenaran yang diperoleh melalui common sense sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang menggunakannya.
3.      Kebenaran melalui wahyu
Kebenaran melalui wahyu merupakan kebenaran mutlak, wahyu datangnya dari Allah melalui Rasul dan Nabi.
4.      Kebenaran secara intuitif
Kebenaran dengan intuisi diperoleh secara cepat sekali melalui proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berfikir, ataupun melalui suatu renungan. Kebenaran yang diperoleh secara intuisi sukar dipercaya, karena kebenaran ini tidak menggunakan langkah yang sistematis untuk memperolehnya.
5.      Kebenaran secara trial and error
Bekerja secara trial dan error adalah melakukan sesuatu secara aktif dengan mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar cara dan materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang menemukan sesuatu. Penemuan dengan trial dan error memakan waktu yang lama, memerlukan biaya yang tinggi, dan selalu dalam keadaan meraba-raba.
6.      Kebenaran melalui spekulasi
Penemuan spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari penemuan cara trial dan error. Jika dalam penemuan cara trial dan error tidak mempunyai panduan sama sekali, maka dalam penemuan dengan spekulasi, seseorang dibimbing oleh suatu pertimbangan.
7.      Kebenaran karena kewibawaan
Kebenaran ada kalanya diterima karena dipengaruhi oleh kewibawaan seseorang. Pendapat dari seorang ilmuwan yang berbobot tinggi ataupun yang mempunyai ototita dalam suatu bidang ilmu dan mempunyai banyak pengalaman, sering diterima begitu saja tanpa perlu uji kebenaran terlebih dahulu, kebenaran tersebut diterima karena wibawa saja. Ada kalanya kebenaran karena kewibawaan setelah diuji ternyata tidak benar sama sekali, umumnya kebenaran karena kewibawaan didasarkan logika saja.

                                                                                                                                                           II.         PENELITIAN

2.1   Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah merupakan usaha untuk memperoleh fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/mengembangkan/munguji kebenaran) dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan menganalisa data (informasi/keterangan), yang dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah (Zahra, 2010).
Sifat dan ciri penelitian :
a.       Pasif, hanya ingin memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan
b.      Aktif, ingin memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesa
Posisi penelitian pada umumnya adalah menghubungkan :
a.       Keinginan manusia
b.      Permasalahan yang timbul
c.       Ilmu pengetahuan
d.      Metode ilmiah.
Penelitian merupakan salah satu cara manusia untuk memperoleh pengetahuan (menjadi tahu tentang sesuatu). Cara lain yang lebih tradisional adalah : melalui pengalaman (orang menjadi tahu setelah mengalami sendiri), otoritas (diberi tahu oleh orang yang memiliki otoritas di bidang itu), proses berfikir deduktif dan induktif.
·         cara berfikir deduktif (proses berfikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus/spesifik),
·         cara berfikir induktif (proses berfikir yang berangkat dari pengamatan hal-hal yang spesifik untuk kemudian menarik kesimpulan yang besifat umum).
Penelitian merupakan cara untuk memperoleh informasi (biasa disebut data) yang berguna dan dapat dipertanggung jawabkan. Tujuannya adalah untuk menemukan jawaban atas persoalan yang berarti, melalui penerapan prosedur ilmiah.
Hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ilmiah diutarakan oleh Nasution (2003) dalam Santosa (2007) sebagai berikut :
  1. ilmiah berarti menggunakan metode dan prinsip-prinsip science, yaitu sistematis dan eksak, atau menggunakan metode penelitian yang mentes (menguji) hipotesis secara empiris
  2. arti empiris adalah didasarkan atas data yang diperoleh melalui observasi
  3. science bersifat obyektif
  4. science (ilmu pengetahuan) adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis
  5. pandangan science
a.       segala pengetahuan bersifat sementara atau tentative, yang dapat berubah bila ditemukan data baru
b.      science adalah metode analisis dan mengemukakan penemuannya dengan hati-hati dalam bentuk “jika…..maka…..”
  1. fakta adalah observasi yang dapat dibuktikan secara empiris
  2. teori menunjukan hubungan antara fakta-fakta, menyusun fakta-fakta dalam bentuk sistematis sehingga dapat dipahami
  3. fungsi teori :
a.       mengarahkan perhatian / member orientasi atau arah pada penelitian, dengan demikian membatasi fakta-fakta yang harus dipelajari dari dunia kenyataan yang luas
b.      merangkum pengetahuan, teori merangkum fakta-fakta dalam bentuk generalisasi yang serba kompleks dengan membentuk system-sistem pemikiran ilmiah
c.       meramalkan fakta, dengan teori dicoba meramalkan kejadian-kejadian yang akan dating dengan mempelajari kondisi-kondisi yang menuju kepada kejadian itu
  1. peranan fakta
a.       dapat merupakan alasan untuk menolok teori yang ada
b.      menyebabkan lahirnya teori baru
c.       member dorongan untuk mempertajam atau memperhalus rumusan teori yang telah ada
  1. science tidak mencari kebenaran mutlak
2.2  Jenis-jenis Penelitian
1.      Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh
a.       Basic Research (Penelitian Dasar), mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan
b.      Applied Research (Penelitian Terapan), mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui, bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
2.      Berdasarkan bidang yang diteliti
a.       Penelitian sosial, secara khusus meneliti bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dan sebagainya.
b.      Penelitian eksakta, secara khusus meneliti bidang eksakta, kimia, fisika, teknik, dan sebagainya
3.      Berdasarkan tempat penelitian
a.       Field Research (Penelitian Lapangan), langsung di lapangan)
b.      Library Research (Penelitian Kepustakaan), dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya
c.       Laboratory Research (Penelitian laboratorium), dilaksanakan pada tempat tertentu atau laboratorium, biasanya bersifat eksperimen atau percobaan
4.      Berdasarkan tipenya
a.       Penelitian Historis
Bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang telah terjadi pada masa lampau
b.      Penelitian eksploratif / penjajakan
Bertujuan : a). untuk mencari hubungan-hubungan yang baru yang terdapat pada suatu permasalahan yang luas dan kompleks, dan b). untuk mengumpulkan data sebanyak-sebanyaknya
c.       Penelitian deskriptif
Bertujuan : a). untuk mendeskripsikan hal yang saat ini berlaku (atau memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini), dan b). untuk melihat kaitan antara variabel-variabel yang ada.
d.      Penelitian eksperimen
Bertujuan untuk menjelaskan apa yang akan terjadi bila variabel tertentu dikontrol atau dimanipulasi secara tertentu. Penelitian eksperimen merupakan penelitian pengujian hipotesis untuk mendapatkan hubungan sebab akibat di antara variabel yang diteliti.

Penelitian ilmiah menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah atau meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar atau tingkat rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian, yaitu :
1.      Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti
2.      Kemampuan untuk meramalkan, sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat atau waktu lain.
Ciri-ciri penelitian ilmiah :
a.       Purposiveness, fokus tujuan yang jelas
b.      Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik
c.       Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
d.      Replicability, pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis
e.       Objectivity, berdasarkan fakta dari data aktual, tidak subjektif dan emosianal
f.        Generalizability, semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin bagus
g.       Precision, mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat
h.      Parsimony, kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
2.3 Tujuan Penelitian
Secara umum ada empat tujuan utama :
1.      Tujuan Exploratif ( Penemuan ) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang tertentu
2.      Tujuan Verifikatif (Pengujian) : menguji kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada
3.      Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang yang telah ada
4.      Penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi)
2.4 Peranan Penelitian
Penelitian mempunyai peranan sebagai berikut :
1.      Pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan kait-mengkait
2.      Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang yang diajukan, meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan atau menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut
3.      Mendapatkan pengetahuan atau ilmu baru
2.5 Persyaratan Penelitian
Persyaratan penelitian sebagai berikut :
1.      Mengikuti konsep ilmiah
2.      Sistematis atau pola tertentu
3.      Terencana

Penelitian dikatakan baik, apabila :
1.      Purposiveness, tujuan yang jelas
2.      Exactitude, dilakukan dengan hati-hati, cermat, dan teliti
3.      Testability, dapat diuji atau dikaji
4.      Replicability, dapat diulang oleh peneliti lain
5.      Precision and confidance, memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel
6.      Objectivity, bersifat objektif
7.      Generalization, berlaku umum
8.      Parismony, hemat (tidak berlebihan)
9.      Consistency, kata atau ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi kata/ungkapan yang memiliki arti sama
10.  Coherency, terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian dengan bagian lainnya.

2.6 Etika Penelitian
Menurut Siregar (2010, etika mencakup norma untuk berprilaku, memisahkan apa yang seharusnya dilakukan dan apa seharusnya tidak boleh dilakukan.
a.       Kejujuran
Jujur dalam mengumpulkan bahan pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan metode dan prosedur penelitian, publikasi hasil. Jujur pada kekurangan atau kegagalan metode yang dilakukan. Menghargai rekan penelitian, tidak boleh mengklaim pekerjaan orang lain.
b.      Obyektivitas
Upayakan minimalisasi kesalahan/bias dalam rancangan percobaan, analisis dan interpretasi data, penilaian ahli/rekan peneliti, keputusan pribadi, pengaruh pemberi dana/sponsor penelitian. 
c.       Integritas
Tepati selalu janji dan perjanjian, lakukan penelitian dengan tulus, upayakan selalu menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan.
d.      Ketelitian
Berlaku teliti dan hindari kesalahan karena ketidakpedulian, secara teratur catat pekerjaan yang dilakukan, misalnya kapan dan dimana pengumpulan data dilakukan, catat alamat korespondensi responden, jurnal atau agen publikasi lainnya.
e.       Keterbukaan
Secara terbuka, saling berbagi data, hasil, ide, alat dan sumber daya penelitian, terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru.
f.        Penghargaan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
Perhatikan paten, copyrights, dan bentuk hak-hak intelektual lainnya. Jangan gunakan data, metode, atau hasil yang belum dipublikasikan tanpa izin penelitinya. Tuliskan nara sumber semua yang  memberikan kontribusi pada riset yang dilakukan, jangan pernah melakukan plagiasi.
g.       Penghargaan terhadap Kerahasiaan (Responden)
Bila penelitian menyangkut data pribadi, kesehatan, catatan kriminal atau data lain yang oleh responden dianggap sebagai rahasia, maka peneliti harus menjaga kerahasiaan data tersebut.
h.      Publikasi yang terpercaya
Hindari mempublikasikan penelitian yang sama berulang-ulang ke berbagai media (jurnal, seminar).
i.        Pembinaan yang konstruktif
Membimbing, memberi arahan dan masukan pada mahasiswa atau peneliti muda.
j.        Penghargaan terhadap kolega atau rekan kerja
Hargai dan perlakukan rekan penelitian dengan semestinya. Bila penelitian dilakukan oleh satu tim akan dipublikasikan, maka peneliti dengan kontribusi terbesar ditetapkan sebagai penulis pertama (first author), sedangkan yang lain menjadi penulis kedua (co-author(s)), biasanya urutan menunjukkan besarnya kontribusi anggota tim dalam penelitian.
k.      Tanggung jawab sosial
Upayakan penelitian yang dilakukan berguna demi kemaslahan masyarakat, meningkatkan taraf hidup, memudahkan kehidupan dan meringankan beban hidup masyarakat. Bertanggung jawab mendampingi masyarakat yang ingin mengaplikasikan hasil penelitian.
l.        Tidak melalukan diskriminasi
Hindari melakukan pembedaan perlakuan pada rekan kerja karena alasan jenis kelamin, ras, suku, dan faktor-faktor lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kompetensi dan integritas ilmiah.
m.    Kompetensi
Tingkatkan kemampuan dan keahlian meneliti melalui pendidikan dan pembelajaran seumur hidup, secara bertahap tingkatkan kompetensi sampai taraf pakar.
n.      Legalitas
Pahami dan patuhi peraturan institusional dan kebijakan pemerintah yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.
o.      Rancang pengujian dengan hewan percobaan dilakukan dengan baik
Bila penelitian memerlukan hewan percobaan, maka percobaan harus dirancang sebaik mungkin, tidak dengan gegabah melakukan percobaan.
p.      Mengutamakan keselamatan manusia
Bila harus menggunakan manusia untuk menguji penelitian, maka penelitian harus dirancang dengan teliti, efek negatife harus diminimalkan, manfaat dimaksimalkan, hormati harkat manusia, privasi dan hak obyek penelitian, siapkan pencegahan dan pengobatan bila sampel menderita efek negatife dari penelitian.

2.7 Tahapan Penelitian
Dalam pelaksanaannya, terutama di bidang pendidikan, penelitian mempunyai beberapa tahapan:
1.      Tahap memilih masalah penelitian
Penelitian dimulai dengan suatu pertanyaan yang menyangkut persoalan yang cukup penting untuk dijadikan masalah penelitian. Masalah tersebut harus merupakan masalah yang dapat dijawab melalui penyelidikan ilmiah (Pertanyaan “Apakah kita perlu memberikan pendidikan seks di Sekolah Dasar?” adalah contoh pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara ilmiah karena menyangkut keyakinan dan nilai-nilai.) Selain itu, masalah tersebut harus juga merupakan masalah yang belum ada jawabnya (belum terjawab), tetapi sarana untuk mencari jawaban itu, yakni melalui pengumpulan dan analisa data, dapat diperoleh.
2.      Tahap analisis
Sesudah masalah yang akan diteliti didefinisikan, tahap berikutnya adalah tahap analisis. Tahap ini memerlukan pengkajian yang mendalam atas hasil-hasil penelitian sebelumnya, yang mungkin telah dilakukan tentang masalah tersebut. Pembahasan hasil penelitian yang terkait ini sangat diperlukan guna memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai masalah penelitian tersebut, serta agar dapat memberikan latar belakang bagi perumusan hipotesis yang merupakan aspek penting dari tahap analisis ini.
3.      Tahap memilih strategi penelitian dan membuat/memilih instrument
Masalah penelitian yang dipilih akan menentukan metode penelitian yang harus digunakan. Ada masalah yang memerlukan eksperimen, ada pula yang mungkin dapat diatasi dengan memakai strategi penelitian deskriptif. Berikutnya, pemilihan metode penelitian akan mempengaruhi penyusunan rancangan penyelidikan dan prosedur pengukuran variabel. Alat pengukur variabel ini mungkin sudah tersedia dan merupakan alat pengukur baku, atau bisa juga masih harus dikembangkan dulu oleh peneliti sendiri.
4.      Tahap mengumpulkan dan menafsirkan data
Konsekuensi-konsekuensi hipotesis penelitian yang dicapai melalui deduksi harus diuji terlebih dahulu. Oleh karena itu, tahap ini memerlukan pengumpulan data. Berbeda dari anggapan umum, tahap ini biasanya tidak memerlukan waktu yang lebih singkat daripada tahap-tahap perencanaan sebelumnya. Sesudah dikumpulkan, selanjutnya data (informasi) yang telah dikumpulkan itu harus dianalisis, biasanya dengan menggunakan statistik. Setelah itu, peneliti melakukan penafsiran yang tepat terhadap hasil penelitian yang diperoleh.
5.      Tahap melaporkan hasil penelitian
Agar dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan pengetahuan, hasil penelitian itu harus dikomunikasikan ke kalangan akademisi. Untuk itu, peneliti harus berusaha agar prosedur, hasil, dan kesimpulan penelitiannya disajikan dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh orang lain, yang mungkin berminat terhadap masalah tersebut. Biasanya diperlukan suatu penyajian yang jelas dan ringkas tentang langkah-langkah yang telah ditempuh dalam penelitian itu.


                                                                                  III.      PROSEDUR PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN

3.1         Memilih Judul
Dalam memilih dan menetapkan judul suatu penelitian, Mardalis (1999) dalam Santosa (2007) menyarankan tentang hal yang harus diperhatikan, sebagai berikut :
a.       Judul sebaiknya yang menarik minat penelitian
b.      Judul yang dipilih mampu untuk dilaksanakan peneliti
c.       Judul hendaknya mengandung kegunaan praktis dan penting untuk diteliti
d.      Judul yang dipilih hendaknya cukup data tersedia
e.       Hindari terjadinya duplikasi judul dengan judul lain
Judul penelitian harus singkat (usahakan tidak lebih dari 16 kata), tetapi harus jelas, dan sebaiknya menggambarkan tema yang akan diteliti. Usahakan membuat judul yang mudah diterjemahkan kedalam bahasa inggris. Judul sebainya tidak merupakan kalimat pertanyaan, tetapi pernyataan. Judul tersebut harus tepat, logis, dan cermat, bersifat indikatif dan informatif.

3.2        Pendahuluan
3.2.1   Latar Belakang
Penelitian dilakukan untuk menjawab permasalahan. Dengan demikian latar belakang penelitian merupakan penentu apakah suatu penelitian layak dikerjakan atau tidak. Dari latar belakang penelitian akan terlihat pentingnya suatu penelitian untuk dilaksanakan. Latar belakang harus ditampilkan secara kuat, maka perlu dukungan data dan fakta sebagai alasan, dengan mengurangi argumentasi pribadi sedikit mungkin (Santosa, 2007).
Permasalahan dalam penelitian adalah suatu pertanyaan ilmiah yang belum ada jawabannya, baik dalam buku teks maupun jurnal-jurnal penelitian. Dengan adanya pertanyaan tersebut, terasa masih ada yang belum lengkap, atau ada celah yang belum terisi, atau ada kekosongan pengetahuan pada ilmu yang bersangkutan.
Pada latar belakang ada penjelasan tentang mengapa perlu dilakukan penelitian mengenai topik tertentu. Jika dilakukan penelitian lebih lanjut dari peneliti terdahulu, perlu dijelaskan tentang apa upaya yang telah dilakukan peneliti terdahulu untuk pemecahan masalah tersebut dan apa kelemahannya, kemudian kemukakan keunggulan atau kelebihan dari teknologi atau rekomendasi yang akan dihasilkan melalui penelitian yang akan dilaksanakan.
Menurut Nazir (2005), perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan merupakan langkah yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian ilmiah. Tujuan dari pemilihan dan perumusan masalah adalah untuk :
1.      Mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademis seseorang
2.      Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal baru
3.      Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya
4.      Memenuhi keinginan sosial
5.      Menyediakan sesuatu yang bermanfaat
Ciri-ciri masalah yang baik adalah :
1.      Masalah yang diteliti harus mempunyai nilai penelitian
Masalah harus mempunyai isi yang mempunyai nilai penelitian, yaitu mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Masalah akan mempunyai nilai penelitian dengan memperhatikan :
a.       Masalah harus mempunyai keaslian
b.      Masalah merupakan hal yang penting
c.       Masalah harus dapat diuji
2.      Masalah yang diteliti harus mempunyai fisibilitas, yaitu masalah dapat dipecahkan.
a.       Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia
b.      Biaya untuk memcahkan masalah, secara relative harus dalam batas-batas kemampuan
c.       Waktu untuk memcahkan masalah harus wajar
d.      Tidak bertentangan dengan hokum dan adat
3.      Masalah yang diteliti harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti
a.       Menarik bagi si peneliti
b.      Cocok dengan kualifikasi ilmiah si peneliti
Sumber untuk memperoleh masalah :
1.      Pengamatan terhadap kegiatan manusia
2.      Bacaan
3.      Analisis bidang pengtahuan
4.      Ulangan serta perluasan penelitian
5.      Cabang studi yang sedang dikerjakan
6.      Pengalaman dan catatan pribadi
7.      Praktik serta keinginan masyarakat
8.      Bidang spesialisasi
9.      Pelajaran atau mata ajaran yang sedang diikuti
10.  Pengamatan terhadap alam sekeliling
11.  Diskusi-diskusi ilmiah

3.2.2     Perumusan Masalah
Perumusan masalah memberikan gambaran tentang aspek dari topik yang menjadi fokus penelitian, dan gambaran tentang kecendrungan yang terjadi dalam aspek tersebut. Dari kecenderungan-kecenderungan tersebut diidentifikasi keterbatasan pemahaman yang ada, pertentangan dengan teori, atau dengan harapan-harapan yang berlaku umum dari suatu perkembangan, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan dengan spesifik dan jelas. Rumusan masalah bersifat operasional dan akan menjadi acuan dalam membuat tujuan penelitian, serta menjadi rujukan dalam mengembangkan studi kepustakaan, metode pengumpulan data, dan istrumen-instrumen, atau bahan dan alat yang akan digunakan dalam penenlitian (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).

3.2.3     Tujuan Penelitian
Jika rumusan masalah merupakan titik awal, maka tujuan penelitian merupakan batas akhir dari sebuah penelitian. Artinya, tujuan ini menspesifikasikan dengan jelas apa yang ingin dicapai dengan penelitian tersebut. Tujuan utama penelitian adalah menemukan jawaban dari permasalahan penelitian. Penelitian dapat bertujuan untuk menemukan, mendapatkan, memperoleh, menentukan, menetapkan atau membuktikan sesuatu yang dicari dalam penelitian. Tercapai tidaknya tujuan penelitian akan terlihat pada kesimpulan, dengan kata lain tujuan adalah acuan untuk membuat kesimpulan penelitian (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).

3.2.4  Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara yang ingin dicapai oleh tujuan penelitian yang belum tentu benar sehingga hipotesis dapat saja ditolak atau diterima berdasarkan hasil penelitian. Hipotesis penelitian berguna untuk membimbing kita dalam mencapai tujuan penelitian, agar tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi, data dan pencapaian tujuan tidak boleh dipengaruhi oleh hipotesis (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.2.5  Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat berupa kontribusi dalam meningkatkan pemahaman terhadap topik penelitian tersebut khususnya, dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan, serta juga menjelaskan manfaat penelitan bagi tujuan-tujuan pembangunan. Manfaat penelitian dapat berupa masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dan dapat berupa saran teknologi atau rekomendasi untuk pemecahan masalah pembangunan (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).

3.3     Tinjauan Pustaka

3.3.1  Isi dan Pentingnya Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka mempunyai beberapa fungsi yaitu :
1.      Membuat tinjauan terhadap perkembangan mutakhir pengetahuan dan pemikiran dalam topik yang akan diteliti dan mengidentifikasi kekosongan pengetahuan yang ada (apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui)
2.      Menjadi dasar dalam perumusan hipotesis penelitian
3.      Menjadi landasan dalam menginterpretasikan data empiris penelitian
Tinjauan pustaka pada proposal penelitian akan berisi tinjauan terhadap konsep teori yang relevan, kebijaksanaan pengembangan dan pembangunan yang dikembangkan atas prinsip teori yang ada, dan hasil-hasil penelitian terdahulu dalam topik yang sama. Rujukan pustaka penting untuk mengetahui hubungan antara maslah penelitian yang akan diteliti dengan penelitian sebelumnya, terutama dalam institusi sendiri. Hal yang paling penting untuk melihat kekosongan sampai dimana orang lain telah melakukan penelitian, supaya jangan terjadi replikasi percuma (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).

3.3.2 Cara pengutipan pustaka
Program Pascasarjana Universitas Andalas (1997), memberikan petunjuk cara pengutipan pustaka.  Sistem penunjukan pustaka yang dipakai adalah sistem nama penulis yang diikuti dengan tahun didalam kurung. Cara pengutipan pustaka ada bermacam-macam, misalnya :
a.       Menurut Ahmad (1981), ………………….
b.      Yusuf (1987) menyatakan ………………..
c.       Sumber pustaka juga boleh dikurung dibelakang pernyataan
Aturan pengutipan pustaka :
  1. Penulisan nama penulis dalam teks secara umum adalah satu nama belakang saja, misalnya Ahmad Baiquni ditulis Baiquni.
  2. Untuk penulis 2 orang, dalam teks perlu ditulis keduany, misalnya Tisdale dan Nelson.
  3. Untuk penulis yang lebih dari 2 orang, hanya dikutip nama pertama saja ditulis lengkap semua, sedangkan pada pemunculan berikut cukup penulis pertama saja, tetapi diiringi et al miring atau digaris bawah. Misalnya Rauf, Usman, Djamaludin, Saenong, dan Subandi untuk pemunculan pertama ditulis semua, tetapi pada pemunculan berikutnya ditulis Rauf et al atau Rauf et al

3.4 Bahan dan Metode
  1. Waktu dan Tempat Penelitian
Menjelaskan tentang waktu dan tempat, kapan dan dimana penelitian dilakukan.
  1. Bahan dan alat
Bahan dan alat yang digunakan dicantumkan dengan jelas, misalnya penggunaan inkubator. Jelaskan tipenya apa. Bahan yang digunakan juga dicantumkan dengan jelas, misalnya bahan kimia. Tuliskan nama kimianya bukan nama dagangnya saja, seperti insektisida azodrin (dimethyl-Methyl-3(methyl amino)-3oxo-l-propenyl phosphate)
  1. Metode atau rancangan
Sebutkan metode yang digunakan dan cantumkan alasan kenapa metode atau rancangan tersebut yang digunakan.
  1. Pengamatan dan pengumpulan data
Data yang dikumpulkan harus relevan dengan tujuan penelitian
  1. Jadwal penelitian (rancangan kegiatan)
  2. Perkiraan dana penelitian

3.5 Daftar Pustaka
Bahan bacaan yang diambil sebagai bahan rujukan harus dicantumkan dengan jelas. Hal ini berguna untuk meyakinkan orang lain tentang orisinilitas karya kita disamping membantu orang lain yang membaca tulisan kita. Seandainya orang lain tertarik, maka dengan mudah mereka akan merujuk ke bahan bacaan yang kita gunakan.
3.6 Lampiran
Lampiran biasanya digunakan untuk menampilkan informasi yang agak panjang dan agak mengganggu uraian bila ditempatkan dalam teks. Lampiran yang umum memuat peta, gambar, tabel, analisis data, metode analisis kimia dll. Penyajian lampiran diurut berdasarkan urutan pemunculannya dalam teks. Lampiran juga dibuatkan daftar dan disusun berdasarkan nomor urut yang ditempatkan setelah daftar gambar



                                                                                      IV.       ATURAN PENULISAN

4.1      Aturan Penulisan Tabel dan Gambar
Umumnya laporan ilmiah berisi tabel dan gambar yang digunakan dalam memaparkan data. Nomor tabel atau gambar ditulis dengan huruf biasa (jangan huruf Romawi). Penomoran tabel atau gambar menurut bab ataupun tanpa menurut bab, tetapi menurut urutan dari 1 sampai selesai. Judul dari tabel atau gambar harus cukup padat dan dapat memberikan keterangan tentang data yang tercantum dalam tabel atau gambar.

Aturan penulisan tabel, antara lain :
a.       Nomor tabel yang diikuti dengan judul ditempatkan simetris diatas tabel, tanpa diakhiri dengan titik
b.      Tabel tidak boleh dipenggal, kecuali kalau memang panjang, sehingga tidak memungkinkan diketik dalam satu halaman. Pada halaman lanjutan tabel, dicantumkan nomor tabel dan kata lanjutan, tanpa judul
c.       Kolom-kolom diberi nama dan dijaga agar pemisahan antara yang satu dengan lainnya cukup tegas
d.      Kalau tabel lebih lebar dari ukuran lebar kertas, sehingga harus dibuat memanjang kertas, maka bagian atas tabel harus diletakkan disebelah kiri kertas
e.       Tabel yang lebih dari 2 halaman atau yang harus dilipat, ditempatkan pada lampiran
Contoh :
TABEL 12. Rata-rata Biaya Produksi Per Hektar dari Tanaman Padi, 1990-2010

TABEL 6.4
Jumlah Kalori yang Dikonsumsi Menurut Tingkat Usia


Aturan penulisan gambar, antara lain :
a.       Bagan, grafik, peta, dan foto semuanya disebut gambar (tidak dibedakan)
b.      Nomor gambar yang diikuti dengan judulnya diletakkan simetris dibawah gambar, tanpa diakhiri dengan titik
c.       Gambar tidak boleh dipenggal
d.      Keterangan gambar dituliskan pada tempat-tempat yang lowong didalam gambar dan jangan pada halaman lain
4.2     Aturan Membuat Daftar Rujukan
Jenis bacaan yang dimasukkan dalam bibliografi atau daftar rujukan, dapat dibagi atas 19 jenis (Nazir, 2005) :
1.      Artikel dalam ensiklopedi
2.      Buku
3.      Bulletin
4.      Catalog
5.      Bab di dalam buku, bulletin, monograf atau Year Book (buku tahunan)
6.      Circular atau leaflet
7.      Essei, cerita pendek, sajak, dan sebagainya
8.      Film
9.      Filmstrip
10.  Artikel dalam majalah
11.  Monograf
12.  Artikel surat kabar
13.  Halaman dalam sebuah buku
14.  Pamphlet
15.  Proceedings dari kongerensi ilmiah
16.  Kaset dan piringan hitam
17.  Laporan
18.  Thesis, skripsi, dan disertasi
19.  Year Book (Buku Tahunan)

Bibliografi atau daftar rujukan yang disusun harus jelas dan dapat dicari dengan mudah oleh peneliti-peneliti lain jika peneliti tersebut ingin membaca keseluruhan isinya. Karena itu, daftar bacaan tersebut harus berisi hal-hal berikut :
-          Nama atau nama-nama pengarang buku, artikel, leaflet, monograf, dan lain-lain
-          Tahun penerbitan terakhir
-          Judul, baik dari buku, monograf, artikel yang digunakan, dan sebagainya
-          Edisi terakhir
-          Volume atau nomor dari majalah, bulletin, dan sebagainya
-          Halaman yang dikutip ataupun jumlah halaman dari artikel atau buku

Contoh :
1.      Artikel dalam ensiklopedia
Coumbe, C.W. 1854. Unemployment, The Encyclopedia Americana. Vol. 27. New York: American Corporation, pp. 227-228.

2.      Buku
Hasibuan, N. 1982. Pengantar Ekonomitrika. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Univ. Gajah Mada.

3.      Buletin
Beath, O.A., H. F. Eppson and C.S. Gilbert. 1935. Selenium and Other Toxic Minerals in Soils and Vegetation. Wyoming Agric. Exper. Sta. Bull. No. 206, 1935, pp. 1 – 55. 

4.      Catalog
California Test Bureau. 1945. Catalogue. California: California Test Bureau.

5.      Bab dalam buku, year book, atau buku kumpulan karangan
Jersild, A.T. 1954. Aspects of Living and Learning in Infancy. Child Psychology, chapter IV. 4th ed.; New York: Prentice Hall, Inc., 1954, pp. 69 – 77. 

6.      Circular atau leaflet
Flemming, W.E. 1950. Protection of Turf from Damage by Japanese Beetle Grubs. U.S. Department of Agric. Leaflet No. 290, 1950, pp. 1 – 8.

7.      Essei, cerita pendek, sajak, dan sebagainya
Galsworthy, J. 1937. Quality, in A.C. Cooper and D. Fallin (Compiler), Essays, Then and Now. Boston: Ginn and Company, 1937, pp 19 – 22.

8.      Film
Encyclopedia Britanica Films, Inc. 1954. Painting Trees with Elliot O’Hara: sound film, 16 mm. Wilmette, Illinois, 1954.

9.      Filmstrip
Society for Visual Education, Inc. 1954. Home Economists and Dietitians; black and white, 48 frames. Chicago, Illinois, 1954.

10.  Artikel dalam majalah ilmiah
Alonso, W. 1979. Ketidakseimbangan Kota dan Daerah dalam Perkembangan Ekonomi. Ekon. dan Keu. Indon. Vol 27, September 1979, hlm 331 – 348. 



11.  Monograf
Center, C.S. and G.L. Persona. 1937. Teaching High School Students to Read: A Study of Retardation in Reading. National Council of Teachers of English Monograph No. 6. New York: D. Appleton-Century Co., 1940, pp. 1 – 88.

12.  Artikel dalam surat kabar
Yayasan Bentara Rakyat. Harian Kompas No. 279, Tahun 18, 14 April 1983, hlm. 1, kol. 4.

13.  Halaman dari sebuah buku
Pasaribu, A. 1967. Pengantar Statistik. Medan: Percetakan Imballo hlm. 57 – 59.

14.  Pamphlet
New York State Departement of Education. 1943. Exploring the Environment. Pamphlet No. 3. Albany, New York, pp. 1 – 11.

15.  Prosiding konferensi ilmiah
Hasan, I dan M. Nazir. 1981. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penjualan Hasil Padi (Marketed Supply) oleh Petani pada Enam Kabupaten di Jawa: Suatu Pembahasan. Proceedings Seminar tentang Marketed Supply Komoditi Padi dan Beras. Bogor: Lembaga Penelitian ITB, 1981 halm. II. 1 – II. 18.

16.  Tesis, skripsi, dan disertasi
Montgomery, R.D. 1974. The Link between Trade and Labor Absorption in Rural Java: An Input Output Study of Yogyakarta. (Unpublished Ph.D. Dissertation, Cornell Univ., 1974).