Hama gudamg mempunyai sifat yang khusus yang berlainan
dengan hama-hama yang menyerang dilapangan, hal ini sangant berkaitan dengan
ruang lingkup hidupnya yang terbatas yang tentunya memberikan pengaruh factor
luar yang terbatas pula.Walaupun hama gudang (produk dalam simpanan) ini
hidupnya dalam ruang lingkup yang terbatas, karena ternyata tidak sedikit pula
Janis dan spesiesnya, yang masing-masing memiliki sifat sendiri, klasifikasi
atau penggolongan hama yang menyerang produk dalam gudang untuk lebih
mengenalnya dan lebih mudah mempelajarinya telah dilakukan oleh para ahli
taxonomi.
Yang dimaksud dengan klasifikasi atau penggolongan ialah
pengaturan individu dalam kelompok, penyusunan kelompok dalam suatu sistem,
data individu dan kelompok menentukan hama itu dalam sistem tersebut. Letak
hama hama dalam system sudah memperlihatkan sifatnya.
Umumnya hama gudang yang sering dijumpai adalah dari
golongan Coleoptera, misalnya Tribolium castaneum, Sitophilus oryzae, Callocobruchus
spp, dll. Pada praktikum, komoditas pasca penen yang diamati adalah beras,
kopi, kacang tolo, kacang hijau, dan kedelai. Hama gudang yang ditemukan pada
komodits tersebut adalah Tribolium castaneum, Sitophilus oryzae, Callocobruchus
spp. Pada beras, ditemukan Tribolium castaneum dan Sitophilus oryzae,
pada komoditas kedelai ditemukan Tribolium castaneum, pada kopi
ditemukan Callocobruchus spp, pada kacang tolo ditemukan Sitophilus
oryzae dan Callocobruchus spp, dan pada komoditas kacang hijau
ditemukan Tribolium castaneum.
Produk pasca penen merupakan bagian tanaman yang dipanen
dengan berbagai tujuan terutama untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan
bagi petani maupun konsumen. Produk dalam simpanan ini tidak terlepas dari
masalah organisme pengganggu tumbuhan terutama dari golongan serangga hama.
Hama yang menyerang komoditas simpanan (hama gudang) mempunyai sifat khusus
yang berlainan dengan hama yang menyerang tanaman ketika di lapang.
Hama yang terdapat dalam gudang tidak hanya menyerang produk
yang baru saja dipanen melainkan juga produk industri hasil pertanian. Produk
tanaman yangdisimpan dalam gudang yang sering terserang hama tidak hanya
terbatas pada produk bebijian saja melainkan produk yang berupa dedaunan (teh,
kumis kucing, dan lain sebagainya) dan kekayuan atau kulit kayu misalnya
kayumanis, kulit kina, dan lainnya (Kartasapoetra, 1987).
Hama yang terdapat dalam acara praktikum diantaranya:
1. Tribolium castaneum
Hama ini juga disebut hama bubuk
beras, bubuk Tribolium bukan hama yang khusus menyerang beras atau
tepungnya. Pada kenyataannya, dimana pada komoditas beras ditemukan hama Sitophilus
oryzae, pasti akan ditemukan juga hama bubuk ini. Hama Tribolium
hanya memakan sisa komoditas yang telah terserang hama Sitophilus oryzae
sebelumnya yang berbentuk tepung (hama sekunder). Hama ini tidak hanya
ditemukan dalam komoditas beras, tetapi juga terdapat pada gaplek, dedak,
beaktul yang ada di toko maupun di rumah.
Kumbang dewasa berbentuk pipih,
berwarna cokelat kemerahan, panjang tubuhnya ± 4 mm. Telur berwarna putih agak
merah dengan panjang ± 1,5 mm. larva berwarna cokelat muda dengan panjang ± 5-6
mm. pupa berwarna putih kekuningan dengan panjang ± 3,5 mm. kumbang betina
mampu bertelur hingga 450 butir sepanjang siklus hidupnya. Telur diletakkan
dalam tepung atau pada bahan lain yang sejenis yang merupakan pecahan kecil
(remah). Larva bergerak aktif karena memiliki 3 pasang kaki thorakal. Larva
akan mengalami pergantian kulit sebanyak 6-11 kali, tidak jarang pula
pergantian kulit ini hanya terjadi sebanyak 6-7 kali, ukuran larva dewasa dapat
mencapai 8-11 mm. menjelang terbentuknya pupa, larva kumbang akan muncul di
permukaan material, tetapi setelah menjadi imago akan kembali masuk ke dalam
material. Seklus hidup dari kumbang ± 35-42 hari.
Pengendalian yang dapat dilakukan
untuk mencegah kerusakan oleh hama ini dapat dilakukan dengan melakukan
penjemuran terhadap komoditas simpanan pada waktu tertentu dengan pengeringan
yang sempurna. Selain itu juga dapat dilakukan fumigasi terhadap produk pasca
penen dengan menggunakan fumigan yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.
2.Kumbang Beras (Sitophilus
oryzae)
Kumbang beras (Sitophilus oryzae) dewasa berwarna
coklat tua, dengan bentuk tubuh yang langsing dan agak pipih. Pada bagian pronotumnya
terdapat enam pasang gerigi yang menyerupai gigi gergaji. Bentuk kepala
menyerupai segitiga. Pada sayap depannya terdapat garis-garis membujur yang
jelas. Terdapat 4 bercak berwarna kuning agak kemerahan pada sayap bagian
depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan.
Panjang tubuh kumbang dewasa ± 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya.
larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika bergerak
akan membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini tampak
seperti kumbang dewasa (WordPress, 2008).
Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat
menghasilkan telur sampai 300-400 butir. telur diletakkan pada tiap butir beras
yang telah dilubangi terlebih dahulu. Lubang gerekan biasanya dibuat sedalam 1
mm dan telur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan bantuan moncongnya
adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia telur berlangsung selama ± 7 hari.
Larva yang telah menetas akan langsung menggerek butiran beras yang menjadi
tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan tetap berada di lubang
gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di dalam lubang selama ± 5
hari. Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama ± 31
hari. Panjang pendeknya siklus hidup ham ini tergantung pada temperatur ruang
simpan, kelembapan di ruang simpan dan jenis produk yang diserang (WordPress,
2008).
Kingdom Animalia, Filum Arthropoda,
Kelas Insecta, Ordo Coleoptera Family Curculionidae, Genus Sitophilus, Spesies Sitophilus
oryzae (Wikipedia, 2008).Sitophilus oryzae dikenal sebagai bubuk
beras (rice weevil). Hama ini bersifat kosmopolit atau tersebar luas di
berbagai tempat di dunia. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini termasuk
berat, bahkan sering dianggap sebagai hama paling merugikan produk pepadian.
Hama Sitophilus oryzae bersifat polifag, selain merusak butiranberas,
juga merusak simpanan jagung, padi, kacang tanah, gaplek, kopra, dan butiran
lainnya.Akibat dari serangan hama ini, butir beras menjadi berlubang
kecil-kecil, tetapi karena ada beberapa lubang pada satu butir, akan menjadikan
butiran beras yang terserang menjadi mudah pecah dan remuk seperti tepung.
Kualitas beras akan rusak sama sekali akibat serangan hama ini yang bercampur
dengan air liur hama
Kumbang muda dan dewasa berwarna
cokelat agak kemerahan, setelah tua warnanya berubah menjadi hitam. Terdapat 4
bercak berwarna kuningagak kemerahan pada sayap bagian depan, 2 bercak pada
sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan. Panjang tubuh
kumbang dewasa ± 3,5-5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya. Apabila
kumbang hidup pada jagung, ukuran rata-rata ± 4,5 mm, sedang pada beras hanya ±
3,5 mm. larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan ketika
bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agak membulat. Pupa kumbang ini
tampak seperti kumbang dewasa.
Kumbang betina dapat mencapai umur
3-5 bulan dan dapat menghasilkan telur sampai 300-400 butir. telur diletakkan
pada tiap butir beras yang telah dilubangi terlebih dahulu. Lubang gerekan
biasanya dibut sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut
dengan bantuan moncongnya adalah telur yang berbentuk lonjong. Stadia telur
berlangsung selama ± 7 hari. Larva yng telah menetas akan langsung menggerek
butiran beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva akan
tetap berada di lubang gerekan, demikian pula imagonya juga akan berada di
dalam lubang selama ± 5 hari. Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi
umumnya selama ± 31 hari. Panjang pendeknya siklus hidup ham ini tergantung
pada temperatur ruang simpan, kelembapan di ruang simpan, dan jenis produk yang
diserang.
Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus
calandrae How (parasit larva), semut merah dan semut hitam yang berperan
sebagai predator dari larva dan telur hama. Penagendalian hama ini dapat
dilakukan dengan cara melakukan penjemuran produk simpanan pada terik matahari,
diharapkan dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat
terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan, dan dengan melakukan fumigasi
terhadap produk yang disimpan.
3. Callocobruchus spp
Imago dari hama ini berbentuk bulat
telur. Bagian kepala agak meruncing, pada elytra terdapat gambaran agak gelap.
Pronotum halus, elytra berwarna cokelat agak kekuningan. Ukuran tubuh sekitar
5-6 mm. imago betina dapat bertelur hingga 150 butir, telur diletakkan pada
permukaan produk kekacangan dalam simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari.
Larva biasanya tidak keluar dari telur, tetapi hanya merobek bagian kulit telur
yang melekat pada material. Larva akan menggerek di sekitar tempat telur
diletakkan. Lama stadia lrva adalah 4-6 hari. Produk yang diserang akan tampak
berlubang.
Pengendalian dapat dilakukan dengan
melakukan fumigasi dan menggunakan musuh alami hama ini (Anisopteromalus
calandrae dan semut hitam).
Intensitas serangan akibat hama
dalam produk simpanan termasuk dalam kategori sedang, walaupun beberapa hama
dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomi. Intensitas serangan pada
komoditas kopi, kacang hijau, kacang tanah, kacang tolo, dan beras adalah 0,3
%, 0,13 %, 0,19 %, 0,29 %, dan 0,34 %. Intensitas serangan paling kecil
terdapat pada komoditas kacang hijau dan intensitas tertinggi ada pada
komoditas beras.
4. Tikus
Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang
belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus Rattus.
Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak
hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu.
Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan
atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna
coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1
pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2
pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna
jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada
panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul.
Beberapa spesies tikus merupakan hama yang mampu beradaptasi
dengan kehidupan manusia.Jenis tikus yang menyerang tanaman padi maupun beras
dalam penyimpanan adalah tikus sawah,tikus rumah dan mencit rumah (Boque, 1988,
Priyambodo, 2005).Tikus disekitar gudang memiliki kerugian /kerusakan kuantitaf
dan kualitatif
Meskipun seekor tikus hanya makan 20 g padi n beras per
hari,tetapi kerusakan bisa mencapai lima kali lipat karna kebiasaan tikus
mengerat agar gigi serinya tetap proposional.Penanganan dari paling
efektifadalah menjagakebersihan gudang dan meminimalisasi tempat bersarang bagi
tikus.
5. Burung
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Passeriformes
Famili : Estrildidae
Genus : Lonchura
Species : Lonchura maja
Pada umumnya burung menimbulkan kerugian secara langsung dengan memakan
padi.Aktivitas burung membuat sarang dalam bangunan sering kali membuat gudang
penyimpanan menjadi kotor bekas sarang dan bulu-bulunya yang rontok.Spesial
burung yang menimbulkan masalah digudang penyimpanan beras adalah burung hantu
serak putih,burung gereja dan burung seriti ( van Vreden dan Ahmadzabidi, 1986;
Caliboso ;1988). Usaha pengendalian yang paling efektif adalah mencegah
masuknya burung kegudang penyimpanan dengan membuat kontruksi bangunan gudang,
pemasangan penghalang dan selalu menjaga sanitasi gudang.
JENIS PENGENDALIAN HAMA :
Pengendalian serangga hama sitophilus oryzae dapat
dilakukan dengan menggunakan Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus
calandrae How (parasit larva), semut merah dan semut hitam yang berperan
sebagai predator dari larva dan telur hama. Selain itu, penjemuran produk
simpanan pada terik matahari merupakan salah satu cara pengendalian yang baik,
karena dengan adanya penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat
terbunuh, dengan pengaturan tempat penyimpanan yang baik yang di tunjang dengan
fasilitas penyimpanan lainnya , dan dengan melakukan fumigasi terhadap produk
yang disimpan (Matnawy H, 2001).:
Upaya
pengendalian hama tikus yang umum dilakukan adalah : pengemposan, pemberian
racun, perangkap, dan penggunaan musuh alami. Berikut akan diuraikan tentang
beberapa cara pengendalian hama tikus :
1. Pengemposan
Pengemposan dilakukan dengan cara memberikan asap belerang
pada lubang-lubang tikus dengan tujuan agar tikus yang berada dalam lubang
tersebut keracunan yang pada akhirnya akan mati. Cara ini cukup efektif dalam
mengendalikan hama tikus secara langsung. Namun bila lokasi tikus berada jauh
di dalam sedangkan gas belerang yang dimasukkan tidak mencapainya, cara ini
tidak akan berhasil. Selain itu cara pengemposan ini cukup mahal.
2. Pemberian Racun
Penggunaan Racun adalah cara yang paling banyak digunakan
petani dalam mengendalikan tikus. Saat ini telah banyak dijual berbagai jenis
racun tikus dengan keunggulan masing-masing. Penggunaan racun ini dilakukan
dengan memberikan rodentisida pada makanan tikus sebagai umpan. Hanya saja,
penggunaan racun ini selain kurang efektif tetapi juga akan membunuh musuh
alami yang memakan tikus ini.
3. Perangkap
Banyak alat-alat yang dapat dirancang untuk menangkap tikus.
Dengan menggunakan perangkap ini selain murah, juga aman bagi manusia maupun
bagi musuh alaminya. Namun demikian, pemakaian alat perangkap ini harus
memperhatikan jenis umpan yang digunakan. Terkadang tikus jeli terhadap suatu
umpan atau hapal pada suatu jebakan. Oleh kerana itu diperlukan adanya variasi
umpan dan jebakan yang tidak mudah dihapal tikus. Penggunaan umpan yang
mencolok seperti ubi-ubian yang dipasang pada tanaman palawija yang belum
menghasilkan umbi akan menarik perhatian tikus. Beberapa perangkap tikus yang
sering digunakan antara lain : perangkap kawat, perangkap jepit, jala kremat,
lubang bambu, dan lain-lain.
Mardalis
(1999) dalam Santosa (2007), menyatakan bahwa manusia mempunyai rasa ingin tahu
tentang segala sesuatu. Hal yang membawa manusia ketingkat yang lebih baik dan
lebih maju dari satu masa ke masa berikutnya.
Beberapa
pakar menyatakan bahwa : (1) bahwa manusia itu mempunyai rasa ingin tahu,
sedangkan di luar dirinya ada beberapa kejadian yang meransang. Kejadian yang
meransang itulah merupakan persoalan (masalah). Hubungan antara ransangan dari
luar dan hasrat ingin tahu itu merupakan penyebab manusia melakukan
penyelidikan , dan (2) bahwa pada diri manusia ada kebutuhan. Untuk memenuhi
kebutuhan itu hanya bisa dicapai apabila ada pengetahuan tentang kebutuhan itu,
maka diadakan penyelidikan guna mengetahui kebutuhan tersebut.
Akal budi dan sifat ingin tahu manusia, mendorongnya
untuk melakukan penelitian, mengkaji fenomena yang terjadi di sekitarnya,
melakukan pertimbangan, mengambil keputusan/kesimpulan dan melakukan evaluasi.
Pengetahuan (Knowledge) secara normatife, defenisi pengetahuan paling tidak
meliputi :
·Fakta, informasi, dan
kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan
·Pemahaman secara
teoritis atau praktis suatu bidang (studi), apa yang diketahui mengenai suatu
bidang tertentu atau berkait dengan bidang-bidang lain secara keseluruhan
·Fakta,
informasi, dan kesadaran atau pengenalan yang diperoleh dari pengalaman
menghadapi suatu fakta atau situasi
Pengetahuan diperoleh
manusia, bersumber dari :
1.Panca indra
2.Perasaan
3.Pikiran / rasio
4.Intuisi
5.Wahyu
Berdasarkan
fungsi/kegunaannya, pengetahuan ada tiga macam, yaitu :
1.Etika, agama, dan moral
ðMembahas baik dan buruk
2.Estetika dan seni
ðMembahas indah dan jelek
3.Logika, rasio, dan
hasil pemikiran
ðMembahas masalah benar dan salah
Pengetahuan hasil pemikiran ini
bersifat objektif dan bisa diterima setiap orang, hal inilah yang menjadi
kajian ilmu, yaitu untuk mencari kebenaran.
Macam-macam kebenaran ilmiah :
1.Kebenaran koherensi
ðSuatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan
tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap
benar.
Contoh
: Semua mahasiswa Unand membayar SPP. Ali mahasiswa Unand, Ali membayar SPP.
2.Kebenaran korespondensi
ðSuatu pernyataan dianggap benar jika materi
pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau
mempunyai korespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Contoh
: Unand di Padang
3.Kebenaran pragmatis
ðSuatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan
tersebut mempunyai fungsional dalam kehidupan praktis.
Macam-macam kebenaran non
ilmiah menurut Nazir (2005), yaitu :
1.Kebenaran secara
kebetulan
Penemuan
kebenaran secara kebetulan tidak lain dari takdir Allah.
2.Kebenaran secara common sense (akal sehat)
Common sense merupakan
serangkaian konsep atau bagan konsepsual yang memuaskan untuk digunakan secara
praktis. Kebenaran yang diperoleh melalui common sense sangat dipengaruhi oleh
kepentingan yang menggunakannya.
3.Kebenaran melalui wahyu
Kebenaran
melalui wahyu merupakan kebenaran mutlak, wahyu datangnya dari Allah melalui
Rasul dan Nabi.
4.Kebenaran secara
intuitif
Kebenaran
dengan intuisi diperoleh secara cepat sekali melalui proses luar sadar tanpa
menggunakan penalaran dan proses berfikir, ataupun melalui suatu renungan.
Kebenaran yang diperoleh secara intuisi sukar dipercaya, karena kebenaran ini
tidak menggunakan langkah yang sistematis untuk memperolehnya.
5.Kebenaran secara trial and error
Bekerja
secara trial dan error adalah melakukan sesuatu secara aktif dengan mengulang-ulang
pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar cara dan materi. Pengulangan
tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang
menemukan sesuatu. Penemuan dengan trial dan
error memakan waktu yang lama,
memerlukan biaya yang tinggi, dan selalu dalam keadaan meraba-raba.
6.Kebenaran melalui spekulasi
Penemuan
spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari penemuan cara trial dan error. Jika dalam penemuan cara trial dan errortidak mempunyai
panduan sama sekali, maka dalam penemuan dengan spekulasi, seseorang dibimbing
oleh suatu pertimbangan.
7.Kebenaran karena
kewibawaan
Kebenaran
ada kalanya diterima karena dipengaruhi oleh kewibawaan seseorang. Pendapat
dari seorang ilmuwan yang berbobot tinggi ataupun yang mempunyai ototita dalam
suatu bidang ilmu dan mempunyai banyak pengalaman, sering diterima begitu saja
tanpa perlu uji kebenaran terlebih dahulu, kebenaran tersebut diterima karena
wibawa saja. Ada kalanya kebenaran karena kewibawaan setelah diuji ternyata
tidak benar sama sekali, umumnya kebenaran karena kewibawaan didasarkan logika
saja.
II.PENELITIAN
2.1Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah merupakan usaha untuk memperoleh
fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/mengembangkan/munguji
kebenaran) dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan menganalisa data
(informasi/keterangan), yang dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan
berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah (Zahra, 2010).
Sifat dan ciri penelitian :
a.Pasif, hanya ingin
memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan
b.Aktif, ingin memecahkan suatu
persoalan atau menguji suatu hipotesa
Posisi penelitian pada umumnya adalah menghubungkan :
a.Keinginan manusia
b.Permasalahan yang timbul
c.Ilmu pengetahuan
d.Metode ilmiah.
Penelitian merupakan salah satu cara
manusia untuk memperoleh pengetahuan (menjadi tahu tentang sesuatu). Cara lain
yang lebih tradisional adalah : melalui pengalaman (orang menjadi tahu setelah
mengalami sendiri), otoritas (diberi tahu oleh orang yang memiliki otoritas di
bidang itu), proses berfikir deduktif dan induktif.
·cara berfikir deduktif (proses berfikir yang
bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat
khusus/spesifik),
·cara berfikir induktif (proses berfikir yang berangkat
dari pengamatan hal-hal yang spesifik untuk kemudian menarik kesimpulan yang besifat
umum).
Penelitian merupakan cara untuk memperoleh informasi (biasa disebut
data) yang berguna dan dapat dipertanggung jawabkan. Tujuannya adalah untuk
menemukan jawaban atas persoalan yang berarti, melalui penerapan prosedur
ilmiah.
Hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ilmiah
diutarakan oleh Nasution (2003) dalam Santosa (2007) sebagai berikut :
ilmiah
berarti menggunakan metode dan prinsip-prinsip science, yaitu sistematis
dan eksak, atau menggunakan metode penelitian yang mentes (menguji) hipotesis
secara empiris
arti empiris adalah
didasarkan atas data yang diperoleh melalui observasi
science bersifat
obyektif
science (ilmu
pengetahuan) adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis
pandangan science
a.segala pengetahuan bersifat sementara atau tentative, yang dapat berubah
bila ditemukan data baru
b.science adalah metode analisis dan mengemukakan penemuannya dengan
hati-hati dalam bentuk “jika…..maka…..”
fakta adalah
observasi yang dapat dibuktikan secara empiris
teori
menunjukan hubungan antara fakta-fakta, menyusun fakta-fakta dalam bentuk
sistematis sehingga dapat dipahami
fungsi teori :
a.mengarahkan perhatian / member orientasi atau
arah pada penelitian, dengan demikian membatasi fakta-fakta yang harus
dipelajari dari dunia kenyataan yang luas
b.merangkum pengetahuan, teori merangkum fakta-fakta dalam bentuk
generalisasi yang serba kompleks dengan membentuk system-sistem pemikiran
ilmiah
c.meramalkan fakta, dengan teori dicoba meramalkan kejadian-kejadian yang
akan dating dengan mempelajari kondisi-kondisi yang menuju kepada kejadian itu
peranan fakta
a.dapat merupakan alasan untuk menolok teori yang ada
b.menyebabkan lahirnya teori baru
c.member dorongan untuk mempertajam atau
memperhalus rumusan teori yang telah ada
science tidak mencari kebenaran mutlak
2.2Jenis-jenis Penelitian
1.Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh
a.Basic Research (Penelitian Dasar), mempunyai alasan
intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan
b.Applied Research (Penelitian Terapan),
mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui, bertujuan agar dapat
melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
2.Berdasarkan bidang yang diteliti
a.Penelitian sosial, secara
khusus meneliti bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dan sebagainya.
b.Penelitian eksakta, secara
khusus meneliti bidang eksakta, kimia, fisika, teknik, dan sebagainya
3.Berdasarkan tempat penelitian
a.Field Research (Penelitian Lapangan), langsung di lapangan)
b.Library Research (Penelitian
Kepustakaan), dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan) dari
penelitian sebelumnya
c.Laboratory Research (Penelitian
laboratorium), dilaksanakan pada tempat tertentu atau laboratorium, biasanya
bersifat eksperimen atau percobaan
4.Berdasarkan tipenya
a.Penelitian Historis
Bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang telah terjadi pada masa lampau
b.Penelitian eksploratif / penjajakan
Bertujuan : a). untuk mencari hubungan-hubungan yang baru yang terdapat
pada suatu permasalahan yang luas dan kompleks, dan b). untuk mengumpulkan data
sebanyak-sebanyaknya
c.Penelitian deskriptif
Bertujuan : a). untuk mendeskripsikan hal yang saat ini berlaku (atau
memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini), dan b). untuk melihat kaitan
antara variabel-variabel yang ada.
d.Penelitian eksperimen
Bertujuan untuk menjelaskan apa yang akan terjadi bila variabel tertentu
dikontrol atau dimanipulasi secara tertentu. Penelitian eksperimen merupakan
penelitian pengujian hipotesis untuk mendapatkan hubungan sebab akibat di
antara variabel yang diteliti.
Penelitian ilmiah
menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (mengemukakan pokok-pokok pikiran,
menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan
pembuktian ilmiah atau meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar atau
tingkat rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian, yaitu :
1.Kemampuan memberikan pengertian
yang jelas tentang masalah yang diteliti
2.Kemampuan untuk meramalkan,
sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama
ditemukan di tempat atau waktu lain.
Ciri-ciri penelitian ilmiah :
a.Purposiveness, fokus tujuan yang jelas
b.Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain
metodologi yang baik
c.Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
d.Replicability, pengujian dapat diulang
untuk kasus yang sama atau yang sejenis
e.Objectivity, berdasarkan fakta dari data aktual, tidak
subjektif dan emosianal
f.Generalizability, semakin luas ruang
lingkup penggunaan hasilnya semakin bagus
g.Precision, mendekati realitas dan confidence peluang
kejadian dari estimasi dapat dilihat
h.Parsimony, kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan
metode penelitiannya.
2.3 Tujuan Penelitian
Secara umum ada
empat tujuan utama :
1.Tujuan Exploratif ( Penemuan ) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang
tertentu
2.Tujuan Verifikatif (Pengujian) : menguji kebenaran sesuatu dalam bidang
yang telah ada
3.Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang
yang telah ada
4.Penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis,
Disertasi)
2.4 Peranan Penelitian
Penelitian mempunyai peranan sebagai berikut :
1.Pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan
untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks
dan kait-mengkait
2.Memberikan jawaban atas
pertanyaan dalam bidang yang diajukan, meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan
atau menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut
3.Mendapatkan pengetahuan atau ilmu baru
2.5 Persyaratan
Penelitian
Persyaratan penelitian sebagai berikut :
1.Mengikuti konsep ilmiah
2.Sistematis atau pola tertentu
3.Terencana
Penelitian dikatakan
baik, apabila :
1.Purposiveness, tujuan yang jelas
2.Exactitude, dilakukan dengan
hati-hati, cermat, dan teliti
3.Testability, dapat diuji atau dikaji
4.Replicability, dapat diulang oleh peneliti lain
5.Precision and confidance, memiliki ketepatan dan
keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel
6.Objectivity, bersifat objektif
7.Generalization, berlaku umum
8.Parismony, hemat (tidak berlebihan)
9.Consistency, kata atau ungkapan yang
digunakan harus selalu sama bagi kata/ungkapan yang memiliki arti sama
10.Coherency, terdapat hubungan yang saling menjalin antara
satu bagian dengan bagian lainnya.
2.6 Etika Penelitian
Menurut Siregar
(2010, etika mencakup norma untuk berprilaku, memisahkan apa yang seharusnya
dilakukan dan apa seharusnya tidak boleh dilakukan.
a.Kejujuran
Jujur dalam mengumpulkan bahan pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan
metode dan prosedur penelitian, publikasi hasil. Jujur pada kekurangan atau kegagalan
metode yang dilakukan. Menghargai rekan penelitian, tidak boleh mengklaim
pekerjaan orang lain.
b.Obyektivitas
Upayakan minimalisasi kesalahan/bias dalam rancangan percobaan, analisis
dan interpretasi data, penilaian ahli/rekan peneliti, keputusan pribadi,
pengaruh pemberi dana/sponsor penelitian.
c.Integritas
Tepati selalu janji dan perjanjian, lakukan penelitian dengan tulus,
upayakan selalu menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan.
d.Ketelitian
Berlaku teliti dan hindari kesalahan karena ketidakpedulian, secara
teratur catat pekerjaan yang dilakukan, misalnya kapan dan dimana pengumpulan
data dilakukan, catat alamat korespondensi responden, jurnal atau agen
publikasi lainnya.
e.Keterbukaan
Secara terbuka, saling berbagi data, hasil, ide, alat dan sumber daya
penelitian, terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru.
f.Penghargaan terhadap Hak
Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
Perhatikan paten, copyrights, dan bentuk hak-hak intelektual lainnya. Jangan
gunakan data, metode, atau hasil yang belum dipublikasikan tanpa izin
penelitinya. Tuliskan nara sumber semua yangmemberikan kontribusi pada riset yang dilakukan, jangan pernah melakukan
plagiasi.
g.Penghargaan terhadap Kerahasiaan (Responden)
Bila penelitian menyangkut data pribadi, kesehatan, catatan kriminal
atau data lain yang oleh responden dianggap sebagai rahasia, maka peneliti
harus menjaga kerahasiaan data tersebut.
h.Publikasi yang terpercaya
Hindari mempublikasikan penelitian yang sama berulang-ulang ke berbagai
media (jurnal, seminar).
i.Pembinaan yang konstruktif
Membimbing, memberi arahan dan masukan pada mahasiswa atau peneliti
muda.
j.Penghargaan terhadap kolega
atau rekan kerja
Hargai dan perlakukan rekan penelitian dengan semestinya. Bila penelitian
dilakukan oleh satu tim akan dipublikasikan, maka peneliti dengan kontribusi
terbesar ditetapkan sebagai penulis pertama (first author), sedangkan yang lain menjadi penulis kedua (co-author(s)), biasanya urutan
menunjukkan besarnya kontribusi anggota tim dalam penelitian.
k.Tanggung jawab sosial
Upayakan penelitian yang dilakukan berguna demi kemaslahan masyarakat,
meningkatkan taraf hidup, memudahkan kehidupan dan meringankan beban hidup
masyarakat. Bertanggung jawab mendampingi masyarakat yang ingin mengaplikasikan
hasil penelitian.
l.Tidak melalukan diskriminasi
Hindari melakukan pembedaan perlakuan pada rekan kerja karena alasan jenis
kelamin, ras, suku, dan faktor-faktor lain yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan kompetensi dan integritas ilmiah.
m.Kompetensi
Tingkatkan kemampuan dan keahlian meneliti melalui pendidikan dan
pembelajaran seumur hidup, secara bertahap tingkatkan kompetensi sampai taraf
pakar.
n.Legalitas
Pahami dan patuhi peraturan institusional dan kebijakan pemerintah yang
terkait dengan penelitian yang dilakukan.
o.Rancang pengujian dengan
hewan percobaan dilakukan dengan baik
Bila penelitian memerlukan hewan percobaan, maka percobaan harus dirancang
sebaik mungkin, tidak dengan gegabah melakukan percobaan.
p.Mengutamakan keselamatan manusia
Bila harus menggunakan manusia untuk menguji penelitian, maka penelitian
harus dirancang dengan teliti, efek negatife harus diminimalkan, manfaat
dimaksimalkan, hormati harkat manusia, privasi dan hak obyek penelitian,
siapkan pencegahan dan pengobatan bila sampel menderita efek negatife dari
penelitian.
2.7 Tahapan Penelitian
Dalam pelaksanaannya, terutama di
bidang pendidikan, penelitian mempunyai beberapatahapan:
1.Tahap memilih masalah penelitian
Penelitian dimulai dengan suatu
pertanyaan yang menyangkut persoalan yang cukup penting untuk dijadikan masalah
penelitian. Masalah tersebut harus merupakan masalah yang dapat dijawab melalui
penyelidikan ilmiah (Pertanyaan “Apakah kita perlu memberikan pendidikan seks
di Sekolah Dasar?” adalah contoh pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara
ilmiah karena menyangkut keyakinan dan nilai-nilai.) Selain itu, masalah
tersebut harus juga merupakan masalah yang belum ada jawabnya (belum terjawab),
tetapi sarana untuk mencari jawaban itu, yakni melalui pengumpulan dan analisa
data, dapat diperoleh.
2.Tahap analisis
Sesudah masalah
yang akan diteliti didefinisikan, tahap berikutnya adalah tahap analisis. Tahap
ini memerlukan pengkajian yang mendalam atas hasil-hasil penelitian sebelumnya,
yang mungkin telah dilakukan tentang masalah tersebut. Pembahasan hasil
penelitian yang terkait ini sangat diperlukan guna memperoleh pemahaman yang
mendalam mengenai masalah penelitian tersebut, serta agar dapat memberikan
latar belakang bagi perumusan hipotesis yang merupakan aspek penting dari tahap
analisis ini.
3.Tahap memilih strategi penelitian dan
membuat/memilih instrument
Masalah
penelitian yang dipilih akan menentukan metode penelitian yang harus digunakan.
Ada masalah yang memerlukan eksperimen, ada pula yang mungkin dapat diatasi
dengan memakai strategi penelitian deskriptif. Berikutnya, pemilihan metode
penelitian akan mempengaruhi penyusunan rancangan penyelidikandan
prosedur pengukuran variabel. Alat pengukur variabel ini mungkin sudah tersedia
dan merupakan alat pengukur baku, atau bisa juga masih harus dikembangkan dulu
oleh peneliti sendiri.
4.Tahap mengumpulkan dan menafsirkan data
Konsekuensi-konsekuensi
hipotesis penelitian yang dicapai melalui deduksi harus diuji terlebih dahulu.
Oleh karena itu, tahap ini memerlukan pengumpulan data. Berbeda dari anggapan umum,
tahap ini biasanya tidak memerlukan waktu yang lebih singkat daripada
tahap-tahap perencanaan sebelumnya. Sesudah dikumpulkan, selanjutnya data
(informasi) yang telah dikumpulkan itu harus dianalisis, biasanya dengan
menggunakan statistik. Setelah itu,
peneliti melakukan penafsiran yang tepat terhadap hasil penelitian yang
diperoleh.
5.Tahap melaporkan hasil penelitian
Agar dapat
memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan pengetahuan, hasil penelitian
itu harus dikomunikasikan ke kalangan akademisi. Untuk itu, peneliti harus
berusaha agar prosedur, hasil, dan kesimpulan penelitiannya disajikan dalam
bentuk yang dapat dimengerti oleh orang lain, yang mungkin berminat terhadap
masalah tersebut. Biasanya diperlukan suatu penyajian yang jelas dan ringkas tentang
langkah-langkah yang telah ditempuh dalam penelitian itu.
III.PROSEDUR PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN
3.1Memilih Judul
Dalam memilih dan menetapkan judul suatu
penelitian, Mardalis (1999) dalam Santosa (2007) menyarankan tentang hal yang
harus diperhatikan, sebagai berikut :
a.Judul sebaiknya yang
menarik minat penelitian
b.Judul yang dipilih mampu
untuk dilaksanakan peneliti
c.Judul hendaknya mengandung
kegunaan praktis dan penting untuk diteliti
d.Judul yang dipilih hendaknya cukup data
tersedia
e.Hindari terjadinya
duplikasi judul dengan judul lain
Judul penelitian
harus singkat (usahakan tidak lebih dari 16 kata), tetapi harus jelas, dan
sebaiknya menggambarkan tema yang akan diteliti. Usahakan membuat judul yang
mudah diterjemahkan kedalam bahasa inggris. Judul sebainya tidak merupakan
kalimat pertanyaan, tetapi pernyataan. Judul tersebut harus tepat, logis, dan
cermat, bersifat indikatif dan informatif.
3.2Pendahuluan
3.2.1Latar Belakang
Penelitian dilakukan
untuk menjawab permasalahan. Dengan demikian latar belakang penelitian
merupakan penentu apakah suatu penelitian layak dikerjakan atau tidak. Dari latar belakang penelitian akan terlihat pentingnya suatu penelitian
untuk dilaksanakan. Latar belakang harus ditampilkan secara kuat, maka perlu
dukungan data dan fakta sebagai alasan, dengan mengurangi argumentasi pribadi
sedikit mungkin (Santosa, 2007).
Permasalahan dalam
penelitian adalah suatu pertanyaan ilmiah yang belum ada jawabannya, baik dalam
buku teks maupun jurnal-jurnal penelitian. Dengan adanya pertanyaan tersebut,
terasa masih ada yang belum lengkap, atau ada celah yang belum terisi, atau ada
kekosongan pengetahuan pada ilmu yang bersangkutan.
Pada latar
belakang ada penjelasan tentang mengapa perlu dilakukan penelitian mengenai
topik tertentu. Jika dilakukan penelitian lebih lanjut dari peneliti terdahulu,
perlu dijelaskan tentang apa upaya yang telah dilakukan peneliti terdahulu
untuk pemecahan masalah tersebut dan apa kelemahannya, kemudian kemukakan keunggulan
atau kelebihan dari teknologi atau rekomendasi yang akan dihasilkan melalui
penelitian yang akan dilaksanakan.
Menurut Nazir
(2005), perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan merupakan langkah
yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian ilmiah. Tujuan dari pemilihan dan perumusan masalah adalah untuk :
1.Mencari sesuatu dalam
rangka pemuasan akademis seseorang
2.Memuaskan perhatian serta
keingintahuan seseorang akan hal-hal baru
3.Meletakkan dasar untuk
memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk
penelitian selanjutnya
4.Memenuhi keinginan sosial
5.Menyediakan sesuatu yang bermanfaat
Ciri-ciri masalah yang baik adalah :
1.Masalah yang diteliti harus mempunyai nilai
penelitian
Masalah harus mempunyai
isi yang mempunyai nilai penelitian, yaitu mempunyai kegunaan tertentu serta
dapat digunakan untuk suatu keperluan. Masalah akan mempunyai nilai penelitian
dengan memperhatikan :
a.Masalah harus mempunyai keaslian
b.Masalah merupakan hal yang penting
c.Masalah harus dapat diuji
2.Masalah yang diteliti harus mempunyai
fisibilitas, yaitu masalah dapat dipecahkan.
a.Data serta metode untuk memecahkan masalah
harus tersedia
b.Biaya untuk memcahkan masalah, secara
relative harus dalam batas-batas kemampuan
c.Waktu untuk memcahkan masalah harus wajar
d.Tidak bertentangan dengan
hokum dan adat
3.Masalah yang diteliti harus sesuai dengan
kualifikasi si peneliti
a.Menarik bagi si peneliti
b.Cocok dengan kualifikasi
ilmiah si peneliti
Sumber untuk memperoleh masalah :
1.Pengamatan terhadap kegiatan manusia
2.Bacaan
3.Analisis bidang pengtahuan
4.Ulangan serta perluasan penelitian
5.Cabang studi yang sedang dikerjakan
6.Pengalaman dan catatan pribadi
7.Praktik serta keinginan masyarakat
8.Bidang spesialisasi
9.Pelajaran atau mata ajaran
yang sedang diikuti
10.Pengamatan terhadap alam sekeliling
11.Diskusi-diskusi ilmiah
3.2.2Perumusan Masalah
Perumusan masalah
memberikan gambaran tentang aspek dari topik yang menjadi fokus penelitian, dan
gambaran tentang kecendrungan yang terjadi dalam aspek tersebut. Dari
kecenderungan-kecenderungan tersebut diidentifikasi keterbatasan pemahaman yang
ada, pertentangan dengan teori, atau dengan harapan-harapan yang berlaku umum
dari suatu perkembangan, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan dengan
spesifik dan jelas. Rumusan masalah bersifat operasional dan akan menjadi acuan
dalam membuat tujuan penelitian, serta menjadi rujukan dalam mengembangkan
studi kepustakaan, metode pengumpulan data, dan istrumen-instrumen, atau bahan
dan alat yang akan digunakan dalam penenlitian (Program Pascasarjana
Universitas Andalas, 1997).
3.2.3Tujuan Penelitian
Jika rumusan masalah merupakan titik awal, maka tujuan penelitian merupakan
batas akhir dari sebuah penelitian. Artinya, tujuan ini menspesifikasikan
dengan jelas apa yang ingin dicapai dengan penelitian tersebut. Tujuan utama
penelitian adalah menemukan jawaban dari permasalahan penelitian. Penelitian
dapat bertujuan untuk menemukan, mendapatkan, memperoleh, menentukan,
menetapkan atau membuktikan sesuatu yang dicari dalam penelitian. Tercapai
tidaknya tujuan penelitian akan terlihat pada kesimpulan, dengan kata lain
tujuan adalah acuan untuk membuat kesimpulan penelitian (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.2.4Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban
sementara yang ingin dicapai oleh tujuan penelitian yang belum tentu benar
sehingga hipotesis dapat saja ditolak atau diterima berdasarkan hasil
penelitian. Hipotesis penelitian berguna untuk membimbing kita dalam mencapai
tujuan penelitian, agar tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan.
Akan tetapi, data dan pencapaian tujuan tidak boleh dipengaruhi oleh hipotesis
(Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.2.5Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat
berupa kontribusi dalam meningkatkan pemahaman terhadap topik penelitian
tersebut khususnya, dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan,
serta juga menjelaskan manfaat penelitan bagi tujuan-tujuan pembangunan.
Manfaat penelitian dapat berupa masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan,
dan dapat berupa saran teknologi atau rekomendasi untuk pemecahan masalah
pembangunan (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.3Tinjauan Pustaka
3.3.1Isi dan Pentingnya Tinjauan
Pustaka
Tinjauan pustaka mempunyai
beberapa fungsi yaitu :
1.Membuat
tinjauan terhadap perkembangan mutakhir pengetahuan dan pemikiran dalam topik
yang akan diteliti dan mengidentifikasi kekosongan pengetahuan yang ada (apa
yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui)
2.Menjadi dasar dalam perumusan
hipotesis penelitian
3.Menjadi landasan dalam
menginterpretasikan data empiris penelitian
Tinjauan
pustaka pada proposal penelitian akan berisi tinjauan terhadap konsep teori
yang relevan, kebijaksanaan pengembangan dan pembangunan yang dikembangkan atas
prinsip teori yang ada, dan hasil-hasil penelitian terdahulu dalam topik yang
sama. Rujukan pustaka penting untuk mengetahui hubungan antara maslah
penelitian yang akan diteliti dengan penelitian sebelumnya, terutama dalam
institusi sendiri. Hal yang paling penting untuk melihat kekosongan sampai
dimana orang lain telah melakukan penelitian, supaya jangan terjadi replikasi
percuma(Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.3.2 Cara
pengutipan pustaka
Program Pascasarjana
Universitas Andalas (1997), memberikan petunjuk cara pengutipan pustaka.Sistem penunjukan pustaka yang
dipakai adalah sistem nama
penulis yang diikuti dengan tahun didalam kurung. Cara pengutipan pustaka ada
bermacam-macam, misalnya :
a.Menurut
Ahmad (1981), ………………….
b.Yusuf (1987) menyatakan
………………..
c.Sumber pustaka juga boleh
dikurung dibelakang pernyataan
Aturan
pengutipan pustaka :
Penulisan
nama penulis dalam teks secara umum adalah satu nama belakang saja,
misalnya Ahmad Baiquni ditulis Baiquni.
Untuk
penulis 2 orang, dalam teks perlu ditulis keduany, misalnya Tisdale dan
Nelson.
Untuk
penulis yang lebih dari 2 orang, hanya dikutip nama pertama saja ditulis
lengkap semua, sedangkan pada pemunculan berikut cukup penulis pertama
saja, tetapi diiringi et al miring atau digaris bawah. Misalnya Rauf,
Usman, Djamaludin, Saenong, dan Subandi untuk pemunculan pertama ditulis
semua, tetapi pada pemunculan berikutnya ditulis Rauf et al atau Rauf etal
3.4 Bahan
dan Metode
Waktu
dan Tempat Penelitian
Menjelaskan
tentang waktu dan tempat, kapan dan dimana penelitian
dilakukan.
Bahan
dan alat
Bahan
dan alat yang digunakan dicantumkan dengan jelas, misalnya penggunaan
inkubator. Jelaskan tipenya apa. Bahan yang digunakan juga dicantumkan dengan
jelas, misalnya bahan kimia. Tuliskan nama kimianya bukan nama dagangnya saja,
seperti insektisida azodrin (dimethyl-Methyl-3(methyl amino)-3oxo-l-propenyl
phosphate)
Metode
atau rancangan
Sebutkan metode yang digunakan dan cantumkan
alasan kenapa metode atau rancangan tersebut yang digunakan.
Pengamatan
dan pengumpulan data
Data
yang dikumpulkan harus relevan dengan tujuan penelitian
Jadwal penelitian (rancangan
kegiatan)
Perkiraan
dana penelitian
3.5 Daftar
Pustaka
Bahan bacaan yang diambil
sebagai bahan rujukan harus dicantumkan dengan jelas. Hal ini berguna untuk
meyakinkan orang lain tentang orisinilitas karya kita disamping membantu orang
lain yang membaca tulisan kita. Seandainya orang lain tertarik, maka dengan
mudah mereka akan merujuk ke bahan bacaan yang kita gunakan.
3.6 Lampiran
Lampiran biasanya digunakan
untuk menampilkan informasi yang agak panjang dan agak mengganggu uraian bila
ditempatkan dalam teks. Lampiran yang umum memuat peta, gambar, tabel, analisis
data, metode analisis kimia dll. Penyajian lampiran diurut berdasarkan urutan
pemunculannya dalam teks. Lampiran juga dibuatkan daftar dan disusun
berdasarkan nomor urut yang ditempatkan setelah daftar gambar
IV.ATURAN PENULISAN
4.1Aturan Penulisan Tabel dan Gambar
Umumnya laporan ilmiah berisi
tabel dan gambar yang digunakan dalam memaparkan data. Nomor tabel atau gambar ditulis
dengan huruf biasa (jangan huruf Romawi). Penomoran tabel atau gambar menurut
bab ataupun tanpa menurut bab, tetapi menurut urutan dari 1 sampai selesai.
Judul dari tabel atau gambar harus cukup padat dan dapat memberikan keterangan
tentang data yang tercantum dalam tabel atau gambar.
Aturan
penulisan tabel, antara lain :
a.Nomor tabel yang diikuti
dengan judul ditempatkan simetris diatas tabel, tanpa diakhiri dengan titik
b.Tabel tidak boleh dipenggal,
kecuali kalau memang panjang, sehingga tidak memungkinkan diketik dalam satu
halaman. Pada halaman lanjutan tabel, dicantumkan nomor tabel dan kata
lanjutan, tanpa judul
c.Kolom-kolom diberi nama dan
dijaga agar pemisahan antara yang satu dengan lainnya cukup tegas
d.Kalau tabel lebih lebar dari
ukuran lebar kertas, sehingga harus dibuat memanjang kertas, maka bagian atas
tabel harus diletakkan disebelah kiri kertas
e.Tabel yang lebih dari 2
halaman atau yang harus dilipat, ditempatkan pada lampiran
Contoh :
TABEL 12. Rata-rata Biaya Produksi Per Hektar dari Tanaman Padi, 1990-2010
TABEL 6.4
Jumlah Kalori yang Dikonsumsi Menurut Tingkat Usia
Aturan
penulisan gambar, antara lain :
a.Bagan, grafik, peta, dan foto
semuanya disebut gambar (tidak dibedakan)
b.Nomor gambar yang diikuti
dengan judulnya diletakkan simetris dibawah gambar, tanpa diakhiri dengan titik
c.Gambar tidak boleh dipenggal
d.Keterangan gambar dituliskan
pada tempat-tempat yang lowong didalam gambar dan jangan pada halaman lain
4.2Aturan Membuat Daftar Rujukan
Jenis bacaan
yang dimasukkan dalam bibliografi atau daftar rujukan, dapat dibagi atas 19
jenis (Nazir, 2005) :
1.Artikel dalam
ensiklopedi
2.Buku
3.Bulletin
4.Catalog
5.Bab di dalam buku,
bulletin, monograf atau Year Book (buku tahunan)
6.Circular atau leaflet
7.Essei, cerita pendek,
sajak, dan sebagainya
8.Film
9.Filmstrip
10.Artikel dalam majalah
11.Monograf
12.Artikel surat
kabar
13.Halaman dalam sebuah buku
14.Pamphlet
15.Proceedings dari kongerensi ilmiah
16.Kaset dan piringan hitam
17.Laporan
18.Thesis, skripsi, dan disertasi
19.Year Book (Buku Tahunan)
Bibliografi atau daftar rujukan
yang disusun harus jelas dan dapat dicari dengan mudah oleh peneliti-peneliti
lain jika peneliti tersebut ingin membaca keseluruhan isinya. Karena itu, daftar bacaan tersebut harus berisi hal-hal
berikut :
-Nama atau
nama-nama pengarang buku, artikel, leaflet, monograf, dan lain-lain
-Tahun penerbitan
terakhir
-Judul,
baik dari buku, monograf, artikel yang digunakan, dan sebagainya
-Edisi terakhir
-Volume atau nomor dari
majalah, bulletin, dan sebagainya
-Halaman
yang dikutip ataupun jumlah halaman dari artikel atau buku
Contoh :
1.Artikel dalam
ensiklopedia
Coumbe,
C.W. 1854. Unemployment, The Encyclopedia
Americana.
Vol. 27. New York:
American Corporation, pp. 227-228.
2.Buku
Hasibuan, N. 1982. Pengantar
Ekonomitrika. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Univ. Gajah
Mada.
3.Buletin
Beath,
O.A., H. F. Eppson and C.S. Gilbert. 1935. Selenium and Other Toxic Minerals in
Soils and Vegetation. Wyoming Agric.
Exper. Sta. Bull. No. 206, 1935, pp. 1 – 55.
4.Catalog
California Test Bureau. 1945. Catalogue. California: California Test Bureau.
5.Bab dalam buku, year
book, atau buku kumpulan karangan
Jersild,
A.T. 1954. Aspects of Living and Learning in Infancy. Child Psychology, chapter IV. 4th ed.; New York:
Prentice Hall, Inc., 1954, pp. 69 – 77.
6.Circular atau leaflet
Flemming,
W.E. 1950. Protection of Turf from Damage by Japanese Beetle Grubs. U.S. Department of Agric. Leaflet No. 290, 1950, pp. 1 – 8.
7.Essei, cerita pendek,
sajak, dan sebagainya
Galsworthy,
J. 1937. Quality, in A.C. Cooper and D. Fallin (Compiler), Essays, Then and Now. Boston:
Ginn and Company, 1937, pp 19 – 22.
8.Film
Encyclopedia
Britanica Films, Inc. 1954. Painting
Trees with Elliot O’Hara: sound film, 16 mm. Wilmette, Illinois, 1954.
9.Filmstrip
Society
for Visual Education, Inc. 1954. Home
Economists and Dietitians; black and white, 48 frames. Chicago, Illinois,
1954.
10.Artikel dalam majalah
ilmiah
Alonso,
W. 1979. Ketidakseimbangan Kota dan Daerah dalam Perkembangan Ekonomi. Ekon. dan Keu. Indon. Vol 27, September
1979, hlm 331 – 348.
11.Monograf
Center,
C.S. and G.L. Persona. 1937. Teaching
High School Students to Read: A Study of Retardation in Reading. National
Council of Teachers of English Monograph No. 6. New York: D. Appleton-Century
Co., 1940, pp. 1 – 88.
12.Artikel dalam surat
kabar
Yayasan
Bentara Rakyat. Harian Kompas No.
279, Tahun 18, 14 April 1983, hlm. 1, kol. 4.
New
York State Departement of Education. 1943. Exploring
the Environment. Pamphlet No. 3. Albany, New York, pp. 1 – 11.
15.Prosiding konferensi
ilmiah
Hasan,
I dan M. Nazir. 1981. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penjualan Hasil Padi (Marketed Supply) oleh Petani pada Enam
Kabupaten di Jawa: Suatu Pembahasan. Proceedings
Seminar tentang Marketed Supply Komoditi Padi dan Beras. Bogor: Lembaga
Penelitian ITB, 1981 halm. II. 1 – II. 18.
16.Tesis, skripsi, dan
disertasi
Montgomery,
R.D. 1974. The Link between Trade and
Labor Absorption in Rural Java: An Input Output Study of Yogyakarta.
(Unpublished Ph.D. Dissertation, Cornell Univ., 1974).