I.
KERANGKA BERFIKIR LMIAH
Mardalis
(1999) dalam Santosa (2007), menyatakan bahwa manusia mempunyai rasa ingin tahu
tentang segala sesuatu. Hal yang membawa manusia ketingkat yang lebih baik dan
lebih maju dari satu masa ke masa berikutnya.
Beberapa
pakar menyatakan bahwa : (1) bahwa manusia itu mempunyai rasa ingin tahu,
sedangkan di luar dirinya ada beberapa kejadian yang meransang. Kejadian yang
meransang itulah merupakan persoalan (masalah). Hubungan antara ransangan dari
luar dan hasrat ingin tahu itu merupakan penyebab manusia melakukan
penyelidikan , dan (2) bahwa pada diri manusia ada kebutuhan. Untuk memenuhi
kebutuhan itu hanya bisa dicapai apabila ada pengetahuan tentang kebutuhan itu,
maka diadakan penyelidikan guna mengetahui kebutuhan tersebut.
Akal budi dan sifat ingin tahu manusia, mendorongnya
untuk melakukan penelitian, mengkaji fenomena yang terjadi di sekitarnya,
melakukan pertimbangan, mengambil keputusan/kesimpulan dan melakukan evaluasi.
Pengetahuan (Knowledge) secara normatife, defenisi pengetahuan paling tidak
meliputi :
·
Fakta, informasi, dan
kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan
·
Pemahaman secara
teoritis atau praktis suatu bidang (studi), apa yang diketahui mengenai suatu
bidang tertentu atau berkait dengan bidang-bidang lain secara keseluruhan
·
Fakta,
informasi, dan kesadaran atau pengenalan yang diperoleh dari pengalaman
menghadapi suatu fakta atau situasi
Pengetahuan diperoleh
manusia, bersumber dari :
1.
Panca indra
2.
Perasaan
3.
Pikiran / rasio
4.
Intuisi
5.
Wahyu
Berdasarkan
fungsi/kegunaannya, pengetahuan ada tiga macam, yaitu :
1.
Etika, agama, dan moral
ð Membahas baik dan buruk
2.
Estetika dan seni
ð Membahas indah dan jelek
3.
Logika, rasio, dan
hasil pemikiran
ð Membahas masalah benar dan salah
Pengetahuan hasil pemikiran ini
bersifat objektif dan bisa diterima setiap orang, hal inilah yang menjadi
kajian ilmu, yaitu untuk mencari kebenaran.
Macam-macam kebenaran ilmiah :
1.
Kebenaran koherensi
ð Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan
tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap
benar.
Contoh
: Semua mahasiswa Unand membayar SPP. Ali mahasiswa Unand, Ali membayar SPP.
2.
Kebenaran korespondensi
ð Suatu pernyataan dianggap benar jika materi
pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau
mempunyai korespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Contoh
: Unand di Padang
3.
Kebenaran pragmatis
ð Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan
tersebut mempunyai fungsional dalam kehidupan praktis.
Macam-macam kebenaran non
ilmiah menurut Nazir (2005), yaitu :
1.
Kebenaran secara
kebetulan
Penemuan
kebenaran secara kebetulan tidak lain dari takdir Allah.
2.
Kebenaran secara common sense (akal sehat)
Common sense merupakan
serangkaian konsep atau bagan konsepsual yang memuaskan untuk digunakan secara
praktis. Kebenaran yang diperoleh melalui common sense sangat dipengaruhi oleh
kepentingan yang menggunakannya.
3.
Kebenaran melalui wahyu
Kebenaran
melalui wahyu merupakan kebenaran mutlak, wahyu datangnya dari Allah melalui
Rasul dan Nabi.
4.
Kebenaran secara
intuitif
Kebenaran
dengan intuisi diperoleh secara cepat sekali melalui proses luar sadar tanpa
menggunakan penalaran dan proses berfikir, ataupun melalui suatu renungan.
Kebenaran yang diperoleh secara intuisi sukar dipercaya, karena kebenaran ini
tidak menggunakan langkah yang sistematis untuk memperolehnya.
5.
Kebenaran secara trial and error
Bekerja
secara trial dan error adalah melakukan sesuatu secara aktif dengan mengulang-ulang
pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar cara dan materi. Pengulangan
tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang
menemukan sesuatu. Penemuan dengan trial dan
error memakan waktu yang lama,
memerlukan biaya yang tinggi, dan selalu dalam keadaan meraba-raba.
6.
Kebenaran melalui spekulasi
Penemuan
spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari penemuan cara trial dan error. Jika dalam penemuan cara trial dan error tidak mempunyai
panduan sama sekali, maka dalam penemuan dengan spekulasi, seseorang dibimbing
oleh suatu pertimbangan.
7.
Kebenaran karena
kewibawaan
Kebenaran
ada kalanya diterima karena dipengaruhi oleh kewibawaan seseorang. Pendapat
dari seorang ilmuwan yang berbobot tinggi ataupun yang mempunyai ototita dalam
suatu bidang ilmu dan mempunyai banyak pengalaman, sering diterima begitu saja
tanpa perlu uji kebenaran terlebih dahulu, kebenaran tersebut diterima karena
wibawa saja. Ada kalanya kebenaran karena kewibawaan setelah diuji ternyata
tidak benar sama sekali, umumnya kebenaran karena kewibawaan didasarkan logika
saja.
II.
PENELITIAN
2.1
Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah merupakan usaha untuk memperoleh
fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/mengembangkan/munguji
kebenaran) dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan menganalisa data
(informasi/keterangan), yang dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan
berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah (Zahra, 2010).
Sifat dan ciri penelitian :
a.
Pasif, hanya ingin
memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan
b.
Aktif, ingin memecahkan suatu
persoalan atau menguji suatu hipotesa
Posisi penelitian pada umumnya adalah menghubungkan :
a.
Keinginan manusia
b.
Permasalahan yang timbul
c.
Ilmu pengetahuan
d.
Metode ilmiah.
Penelitian merupakan salah satu cara
manusia untuk memperoleh pengetahuan (menjadi tahu tentang sesuatu). Cara lain
yang lebih tradisional adalah : melalui pengalaman (orang menjadi tahu setelah
mengalami sendiri), otoritas (diberi tahu oleh orang yang memiliki otoritas di
bidang itu), proses berfikir deduktif dan induktif.
·
cara berfikir deduktif (proses berfikir yang
bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat
khusus/spesifik),
·
cara berfikir induktif (proses berfikir yang berangkat
dari pengamatan hal-hal yang spesifik untuk kemudian menarik kesimpulan yang besifat
umum).
Penelitian merupakan cara untuk memperoleh informasi (biasa disebut
data) yang berguna dan dapat dipertanggung jawabkan. Tujuannya adalah untuk
menemukan jawaban atas persoalan yang berarti, melalui penerapan prosedur
ilmiah.
Hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ilmiah
diutarakan oleh Nasution (2003) dalam Santosa (2007) sebagai berikut :
- ilmiah
berarti menggunakan metode dan prinsip-prinsip science, yaitu sistematis
dan eksak, atau menggunakan metode penelitian yang mentes (menguji) hipotesis
secara empiris
- arti empiris adalah
didasarkan atas data yang diperoleh melalui observasi
- science bersifat
obyektif
- science (ilmu
pengetahuan) adalah akumulasi pengetahuan yang sistematis
- pandangan science
a. segala pengetahuan bersifat sementara atau tentative, yang dapat berubah
bila ditemukan data baru
b. science adalah metode analisis dan mengemukakan penemuannya dengan
hati-hati dalam bentuk “jika…..maka…..”
- fakta adalah
observasi yang dapat dibuktikan secara empiris
- teori
menunjukan hubungan antara fakta-fakta, menyusun fakta-fakta dalam bentuk
sistematis sehingga dapat dipahami
- fungsi teori :
a.
mengarahkan perhatian / member orientasi atau
arah pada penelitian, dengan demikian membatasi fakta-fakta yang harus
dipelajari dari dunia kenyataan yang luas
b. merangkum pengetahuan, teori merangkum fakta-fakta dalam bentuk
generalisasi yang serba kompleks dengan membentuk system-sistem pemikiran
ilmiah
c. meramalkan fakta, dengan teori dicoba meramalkan kejadian-kejadian yang
akan dating dengan mempelajari kondisi-kondisi yang menuju kepada kejadian itu
- peranan fakta
a. dapat merupakan alasan untuk menolok teori yang ada
b.
menyebabkan lahirnya teori baru
c.
member dorongan untuk mempertajam atau
memperhalus rumusan teori yang telah ada
- science tidak mencari kebenaran mutlak
2.2 Jenis-jenis Penelitian
1.
Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh
a.
Basic Research (Penelitian Dasar), mempunyai alasan
intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan
b.
Applied Research (Penelitian Terapan),
mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui, bertujuan agar dapat
melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
2.
Berdasarkan bidang yang diteliti
a.
Penelitian sosial, secara
khusus meneliti bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dan sebagainya.
b.
Penelitian eksakta, secara
khusus meneliti bidang eksakta, kimia, fisika, teknik, dan sebagainya
3.
Berdasarkan tempat penelitian
a.
Field Research (Penelitian Lapangan), langsung di lapangan)
b.
Library Research (Penelitian
Kepustakaan), dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan) dari
penelitian sebelumnya
c.
Laboratory Research (Penelitian
laboratorium), dilaksanakan pada tempat tertentu atau laboratorium, biasanya
bersifat eksperimen atau percobaan
4.
Berdasarkan tipenya
a.
Penelitian Historis
Bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang telah terjadi pada masa lampau
b.
Penelitian eksploratif / penjajakan
Bertujuan : a). untuk mencari hubungan-hubungan yang baru yang terdapat
pada suatu permasalahan yang luas dan kompleks, dan b). untuk mengumpulkan data
sebanyak-sebanyaknya
c.
Penelitian deskriptif
Bertujuan : a). untuk mendeskripsikan hal yang saat ini berlaku (atau
memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini), dan b). untuk melihat kaitan
antara variabel-variabel yang ada.
d.
Penelitian eksperimen
Bertujuan untuk menjelaskan apa yang akan terjadi bila variabel tertentu
dikontrol atau dimanipulasi secara tertentu. Penelitian eksperimen merupakan
penelitian pengujian hipotesis untuk mendapatkan hubungan sebab akibat di
antara variabel yang diteliti.
Penelitian ilmiah
menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (mengemukakan pokok-pokok pikiran,
menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan
pembuktian ilmiah atau meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar atau
tingkat rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian, yaitu :
1.
Kemampuan memberikan pengertian
yang jelas tentang masalah yang diteliti
2.
Kemampuan untuk meramalkan,
sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama
ditemukan di tempat atau waktu lain.
Ciri-ciri penelitian ilmiah :
a.
Purposiveness, fokus tujuan yang jelas
b.
Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain
metodologi yang baik
c.
Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
d.
Replicability, pengujian dapat diulang
untuk kasus yang sama atau yang sejenis
e.
Objectivity, berdasarkan fakta dari data aktual, tidak
subjektif dan emosianal
f.
Generalizability, semakin luas ruang
lingkup penggunaan hasilnya semakin bagus
g.
Precision, mendekati realitas dan confidence peluang
kejadian dari estimasi dapat dilihat
h.
Parsimony, kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan
metode penelitiannya.
2.3 Tujuan Penelitian
Secara umum ada
empat tujuan utama :
1.
Tujuan Exploratif ( Penemuan ) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang
tertentu
2.
Tujuan Verifikatif (Pengujian) : menguji kebenaran sesuatu dalam bidang
yang telah ada
3.
Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang
yang telah ada
4.
Penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis,
Disertasi)
2.4 Peranan Penelitian
Penelitian mempunyai peranan sebagai berikut :
1.
Pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan
untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks
dan kait-mengkait
2.
Memberikan jawaban atas
pertanyaan dalam bidang yang diajukan, meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan
atau menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut
3.
Mendapatkan pengetahuan atau ilmu baru
2.5 Persyaratan
Penelitian
Persyaratan penelitian sebagai berikut :
1.
Mengikuti konsep ilmiah
2.
Sistematis atau pola tertentu
3.
Terencana
Penelitian dikatakan
baik, apabila :
1.
Purposiveness, tujuan yang jelas
2.
Exactitude, dilakukan dengan
hati-hati, cermat, dan teliti
3.
Testability, dapat diuji atau dikaji
4.
Replicability, dapat diulang oleh peneliti lain
5.
Precision and confidance, memiliki ketepatan dan
keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel
6.
Objectivity, bersifat objektif
7.
Generalization, berlaku umum
8.
Parismony, hemat (tidak berlebihan)
9.
Consistency, kata atau ungkapan yang
digunakan harus selalu sama bagi kata/ungkapan yang memiliki arti sama
10.
Coherency, terdapat hubungan yang saling menjalin antara
satu bagian dengan bagian lainnya.
2.6 Etika Penelitian
Menurut Siregar
(2010, etika mencakup norma untuk berprilaku, memisahkan apa yang seharusnya
dilakukan dan apa seharusnya tidak boleh dilakukan.
a.
Kejujuran
Jujur dalam mengumpulkan bahan pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan
metode dan prosedur penelitian, publikasi hasil. Jujur pada kekurangan atau kegagalan
metode yang dilakukan. Menghargai rekan penelitian, tidak boleh mengklaim
pekerjaan orang lain.
b.
Obyektivitas
Upayakan minimalisasi kesalahan/bias dalam rancangan percobaan, analisis
dan interpretasi data, penilaian ahli/rekan peneliti, keputusan pribadi,
pengaruh pemberi dana/sponsor penelitian.
c.
Integritas
Tepati selalu janji dan perjanjian, lakukan penelitian dengan tulus,
upayakan selalu menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan.
d.
Ketelitian
Berlaku teliti dan hindari kesalahan karena ketidakpedulian, secara
teratur catat pekerjaan yang dilakukan, misalnya kapan dan dimana pengumpulan
data dilakukan, catat alamat korespondensi responden, jurnal atau agen
publikasi lainnya.
e.
Keterbukaan
Secara terbuka, saling berbagi data, hasil, ide, alat dan sumber daya
penelitian, terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru.
f.
Penghargaan terhadap Hak
Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
Perhatikan paten, copyrights, dan bentuk hak-hak intelektual lainnya. Jangan
gunakan data, metode, atau hasil yang belum dipublikasikan tanpa izin
penelitinya. Tuliskan nara sumber semua yang
memberikan kontribusi pada riset yang dilakukan, jangan pernah melakukan
plagiasi.
g.
Penghargaan terhadap Kerahasiaan (Responden)
Bila penelitian menyangkut data pribadi, kesehatan, catatan kriminal
atau data lain yang oleh responden dianggap sebagai rahasia, maka peneliti
harus menjaga kerahasiaan data tersebut.
h.
Publikasi yang terpercaya
Hindari mempublikasikan penelitian yang sama berulang-ulang ke berbagai
media (jurnal, seminar).
i.
Pembinaan yang konstruktif
Membimbing, memberi arahan dan masukan pada mahasiswa atau peneliti
muda.
j.
Penghargaan terhadap kolega
atau rekan kerja
Hargai dan perlakukan rekan penelitian dengan semestinya. Bila penelitian
dilakukan oleh satu tim akan dipublikasikan, maka peneliti dengan kontribusi
terbesar ditetapkan sebagai penulis pertama (first author), sedangkan yang lain menjadi penulis kedua (co-author(s)), biasanya urutan
menunjukkan besarnya kontribusi anggota tim dalam penelitian.
k.
Tanggung jawab sosial
Upayakan penelitian yang dilakukan berguna demi kemaslahan masyarakat,
meningkatkan taraf hidup, memudahkan kehidupan dan meringankan beban hidup
masyarakat. Bertanggung jawab mendampingi masyarakat yang ingin mengaplikasikan
hasil penelitian.
l.
Tidak melalukan diskriminasi
Hindari melakukan pembedaan perlakuan pada rekan kerja karena alasan jenis
kelamin, ras, suku, dan faktor-faktor lain yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan kompetensi dan integritas ilmiah.
m.
Kompetensi
Tingkatkan kemampuan dan keahlian meneliti melalui pendidikan dan
pembelajaran seumur hidup, secara bertahap tingkatkan kompetensi sampai taraf
pakar.
n.
Legalitas
Pahami dan patuhi peraturan institusional dan kebijakan pemerintah yang
terkait dengan penelitian yang dilakukan.
o.
Rancang pengujian dengan
hewan percobaan dilakukan dengan baik
Bila penelitian memerlukan hewan percobaan, maka percobaan harus dirancang
sebaik mungkin, tidak dengan gegabah melakukan percobaan.
p.
Mengutamakan keselamatan manusia
Bila harus menggunakan manusia untuk menguji penelitian, maka penelitian
harus dirancang dengan teliti, efek negatife harus diminimalkan, manfaat
dimaksimalkan, hormati harkat manusia, privasi dan hak obyek penelitian,
siapkan pencegahan dan pengobatan bila sampel menderita efek negatife dari
penelitian.
2.7 Tahapan Penelitian
Dalam pelaksanaannya, terutama di
bidang pendidikan, penelitian mempunyai beberapa tahapan:
1.
Tahap memilih masalah penelitian
Penelitian dimulai dengan suatu
pertanyaan yang menyangkut persoalan yang cukup penting untuk dijadikan masalah
penelitian. Masalah tersebut harus merupakan masalah yang dapat dijawab melalui
penyelidikan ilmiah (Pertanyaan “Apakah kita perlu memberikan pendidikan seks
di Sekolah Dasar?” adalah contoh pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara
ilmiah karena menyangkut keyakinan dan nilai-nilai.) Selain itu, masalah
tersebut harus juga merupakan masalah yang belum ada jawabnya (belum terjawab),
tetapi sarana untuk mencari jawaban itu, yakni melalui pengumpulan dan analisa
data, dapat diperoleh.
2. Tahap analisis
Sesudah masalah
yang akan diteliti didefinisikan, tahap berikutnya adalah tahap analisis. Tahap
ini memerlukan pengkajian yang mendalam atas hasil-hasil penelitian sebelumnya,
yang mungkin telah dilakukan tentang masalah tersebut. Pembahasan hasil
penelitian yang terkait ini sangat diperlukan guna memperoleh pemahaman yang
mendalam mengenai masalah penelitian tersebut, serta agar dapat memberikan
latar belakang bagi perumusan hipotesis yang merupakan aspek penting dari tahap
analisis ini.
3.
Tahap memilih strategi penelitian dan
membuat/memilih instrument
Masalah
penelitian yang dipilih akan menentukan metode penelitian yang harus digunakan.
Ada masalah yang memerlukan eksperimen, ada pula yang mungkin dapat diatasi
dengan memakai strategi penelitian deskriptif. Berikutnya, pemilihan metode
penelitian akan mempengaruhi penyusunan rancangan penyelidikan dan
prosedur pengukuran variabel. Alat pengukur variabel ini mungkin sudah tersedia
dan merupakan alat pengukur baku, atau bisa juga masih harus dikembangkan dulu
oleh peneliti sendiri.
4.
Tahap mengumpulkan dan menafsirkan data
Konsekuensi-konsekuensi
hipotesis penelitian yang dicapai melalui deduksi harus diuji terlebih dahulu.
Oleh karena itu, tahap ini memerlukan pengumpulan data. Berbeda dari anggapan umum,
tahap ini biasanya tidak memerlukan waktu yang lebih singkat daripada
tahap-tahap perencanaan sebelumnya. Sesudah dikumpulkan, selanjutnya data
(informasi) yang telah dikumpulkan itu harus dianalisis, biasanya dengan
menggunakan statistik. Setelah itu,
peneliti melakukan penafsiran yang tepat terhadap hasil penelitian yang
diperoleh.
5.
Tahap melaporkan hasil penelitian
Agar dapat
memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan pengetahuan, hasil penelitian
itu harus dikomunikasikan ke kalangan akademisi. Untuk itu, peneliti harus
berusaha agar prosedur, hasil, dan kesimpulan penelitiannya disajikan dalam
bentuk yang dapat dimengerti oleh orang lain, yang mungkin berminat terhadap
masalah tersebut. Biasanya diperlukan suatu penyajian yang jelas dan ringkas tentang
langkah-langkah yang telah ditempuh dalam penelitian itu.
III.
PROSEDUR PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN
3.1
Memilih Judul
Dalam memilih dan menetapkan judul suatu
penelitian, Mardalis (1999) dalam Santosa (2007) menyarankan tentang hal yang
harus diperhatikan, sebagai berikut :
a.
Judul sebaiknya yang
menarik minat penelitian
b.
Judul yang dipilih mampu
untuk dilaksanakan peneliti
c.
Judul hendaknya mengandung
kegunaan praktis dan penting untuk diteliti
d.
Judul yang dipilih hendaknya cukup data
tersedia
e.
Hindari terjadinya
duplikasi judul dengan judul lain
Judul penelitian
harus singkat (usahakan tidak lebih dari 16 kata), tetapi harus jelas, dan
sebaiknya menggambarkan tema yang akan diteliti. Usahakan membuat judul yang
mudah diterjemahkan kedalam bahasa inggris. Judul sebainya tidak merupakan
kalimat pertanyaan, tetapi pernyataan. Judul tersebut harus tepat, logis, dan
cermat, bersifat indikatif dan informatif.
3.2
Pendahuluan
3.2.1
Latar Belakang
Penelitian dilakukan
untuk menjawab permasalahan. Dengan demikian latar belakang penelitian
merupakan penentu apakah suatu penelitian layak dikerjakan atau tidak. Dari latar belakang penelitian akan terlihat pentingnya suatu penelitian
untuk dilaksanakan. Latar belakang harus ditampilkan secara kuat, maka perlu
dukungan data dan fakta sebagai alasan, dengan mengurangi argumentasi pribadi
sedikit mungkin (Santosa, 2007).
Permasalahan dalam
penelitian adalah suatu pertanyaan ilmiah yang belum ada jawabannya, baik dalam
buku teks maupun jurnal-jurnal penelitian. Dengan adanya pertanyaan tersebut,
terasa masih ada yang belum lengkap, atau ada celah yang belum terisi, atau ada
kekosongan pengetahuan pada ilmu yang bersangkutan.
Pada latar
belakang ada penjelasan tentang mengapa perlu dilakukan penelitian mengenai
topik tertentu. Jika dilakukan penelitian lebih lanjut dari peneliti terdahulu,
perlu dijelaskan tentang apa upaya yang telah dilakukan peneliti terdahulu
untuk pemecahan masalah tersebut dan apa kelemahannya, kemudian kemukakan keunggulan
atau kelebihan dari teknologi atau rekomendasi yang akan dihasilkan melalui
penelitian yang akan dilaksanakan.
Menurut Nazir
(2005), perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan merupakan langkah
yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian ilmiah. Tujuan dari pemilihan dan perumusan masalah adalah untuk :
1.
Mencari sesuatu dalam
rangka pemuasan akademis seseorang
2.
Memuaskan perhatian serta
keingintahuan seseorang akan hal-hal baru
3.
Meletakkan dasar untuk
memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk
penelitian selanjutnya
4.
Memenuhi keinginan sosial
5.
Menyediakan sesuatu yang bermanfaat
Ciri-ciri masalah yang baik adalah :
1.
Masalah yang diteliti harus mempunyai nilai
penelitian
Masalah harus mempunyai
isi yang mempunyai nilai penelitian, yaitu mempunyai kegunaan tertentu serta
dapat digunakan untuk suatu keperluan. Masalah akan mempunyai nilai penelitian
dengan memperhatikan :
a.
Masalah harus mempunyai keaslian
b.
Masalah merupakan hal yang penting
c.
Masalah harus dapat diuji
2.
Masalah yang diteliti harus mempunyai
fisibilitas, yaitu masalah dapat dipecahkan.
a.
Data serta metode untuk memecahkan masalah
harus tersedia
b.
Biaya untuk memcahkan masalah, secara
relative harus dalam batas-batas kemampuan
c.
Waktu untuk memcahkan masalah harus wajar
d.
Tidak bertentangan dengan
hokum dan adat
3.
Masalah yang diteliti harus sesuai dengan
kualifikasi si peneliti
a.
Menarik bagi si peneliti
b.
Cocok dengan kualifikasi
ilmiah si peneliti
Sumber untuk memperoleh masalah :
1.
Pengamatan terhadap kegiatan manusia
2.
Bacaan
3.
Analisis bidang pengtahuan
4.
Ulangan serta perluasan penelitian
5.
Cabang studi yang sedang dikerjakan
6.
Pengalaman dan catatan pribadi
7.
Praktik serta keinginan masyarakat
8.
Bidang spesialisasi
9.
Pelajaran atau mata ajaran
yang sedang diikuti
10.
Pengamatan terhadap alam sekeliling
11. Diskusi-diskusi ilmiah
3.2.2
Perumusan Masalah
Perumusan masalah
memberikan gambaran tentang aspek dari topik yang menjadi fokus penelitian, dan
gambaran tentang kecendrungan yang terjadi dalam aspek tersebut. Dari
kecenderungan-kecenderungan tersebut diidentifikasi keterbatasan pemahaman yang
ada, pertentangan dengan teori, atau dengan harapan-harapan yang berlaku umum
dari suatu perkembangan, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan dengan
spesifik dan jelas. Rumusan masalah bersifat operasional dan akan menjadi acuan
dalam membuat tujuan penelitian, serta menjadi rujukan dalam mengembangkan
studi kepustakaan, metode pengumpulan data, dan istrumen-instrumen, atau bahan
dan alat yang akan digunakan dalam penenlitian (Program Pascasarjana
Universitas Andalas, 1997).
3.2.3
Tujuan Penelitian
Jika rumusan masalah merupakan titik awal, maka tujuan penelitian merupakan
batas akhir dari sebuah penelitian. Artinya, tujuan ini menspesifikasikan
dengan jelas apa yang ingin dicapai dengan penelitian tersebut. Tujuan utama
penelitian adalah menemukan jawaban dari permasalahan penelitian. Penelitian
dapat bertujuan untuk menemukan, mendapatkan, memperoleh, menentukan,
menetapkan atau membuktikan sesuatu yang dicari dalam penelitian. Tercapai
tidaknya tujuan penelitian akan terlihat pada kesimpulan, dengan kata lain
tujuan adalah acuan untuk membuat kesimpulan penelitian (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.2.4
Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban
sementara yang ingin dicapai oleh tujuan penelitian yang belum tentu benar
sehingga hipotesis dapat saja ditolak atau diterima berdasarkan hasil
penelitian. Hipotesis penelitian berguna untuk membimbing kita dalam mencapai
tujuan penelitian, agar tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan.
Akan tetapi, data dan pencapaian tujuan tidak boleh dipengaruhi oleh hipotesis
(Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.2.5
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat
berupa kontribusi dalam meningkatkan pemahaman terhadap topik penelitian
tersebut khususnya, dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan,
serta juga menjelaskan manfaat penelitan bagi tujuan-tujuan pembangunan.
Manfaat penelitian dapat berupa masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan,
dan dapat berupa saran teknologi atau rekomendasi untuk pemecahan masalah
pembangunan (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.3 Tinjauan Pustaka
3.3.1 Isi dan Pentingnya Tinjauan
Pustaka
Tinjauan pustaka mempunyai
beberapa fungsi yaitu :
1. Membuat
tinjauan terhadap perkembangan mutakhir pengetahuan dan pemikiran dalam topik
yang akan diteliti dan mengidentifikasi kekosongan pengetahuan yang ada (apa
yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui)
2.
Menjadi dasar dalam perumusan
hipotesis penelitian
3.
Menjadi landasan dalam
menginterpretasikan data empiris penelitian
Tinjauan
pustaka pada proposal penelitian akan berisi tinjauan terhadap konsep teori
yang relevan, kebijaksanaan pengembangan dan pembangunan yang dikembangkan atas
prinsip teori yang ada, dan hasil-hasil penelitian terdahulu dalam topik yang
sama. Rujukan pustaka penting untuk mengetahui hubungan antara maslah
penelitian yang akan diteliti dengan penelitian sebelumnya, terutama dalam
institusi sendiri. Hal yang paling penting untuk melihat kekosongan sampai
dimana orang lain telah melakukan penelitian, supaya jangan terjadi replikasi
percuma (Program Pascasarjana Universitas Andalas, 1997).
3.3.2 Cara
pengutipan pustaka
Program Pascasarjana
Universitas Andalas (1997), memberikan petunjuk cara pengutipan pustaka. Sistem penunjukan pustaka yang
dipakai adalah sistem nama
penulis yang diikuti dengan tahun didalam kurung. Cara pengutipan pustaka ada
bermacam-macam, misalnya :
a. Menurut
Ahmad (1981), ………………….
b.
Yusuf (1987) menyatakan
………………..
c.
Sumber pustaka juga boleh
dikurung dibelakang pernyataan
Aturan
pengutipan pustaka :
- Penulisan
nama penulis dalam teks secara umum adalah satu nama belakang saja,
misalnya Ahmad Baiquni ditulis Baiquni.
- Untuk
penulis 2 orang, dalam teks perlu ditulis keduany, misalnya Tisdale dan
Nelson.
- Untuk
penulis yang lebih dari 2 orang, hanya dikutip nama pertama saja ditulis
lengkap semua, sedangkan pada pemunculan berikut cukup penulis pertama
saja, tetapi diiringi et al miring atau digaris bawah. Misalnya Rauf,
Usman, Djamaludin, Saenong, dan Subandi untuk pemunculan pertama ditulis
semua, tetapi pada pemunculan berikutnya ditulis Rauf et al atau Rauf et al
3.4 Bahan
dan Metode
- Waktu
dan Tempat Penelitian
Menjelaskan
tentang waktu dan tempat, kapan dan dimana penelitian
dilakukan.
- Bahan
dan alat
Bahan
dan alat yang digunakan dicantumkan dengan jelas, misalnya penggunaan
inkubator. Jelaskan tipenya apa. Bahan yang digunakan juga dicantumkan dengan
jelas, misalnya bahan kimia. Tuliskan nama kimianya bukan nama dagangnya saja,
seperti insektisida azodrin (dimethyl-Methyl-3(methyl amino)-3oxo-l-propenyl
phosphate)
- Metode
atau rancangan
Sebutkan metode yang digunakan dan cantumkan
alasan kenapa metode atau rancangan tersebut yang digunakan.
- Pengamatan
dan pengumpulan data
Data
yang dikumpulkan harus relevan dengan tujuan penelitian
- Jadwal penelitian (rancangan
kegiatan)
- Perkiraan
dana penelitian
3.5 Daftar
Pustaka
Bahan bacaan yang diambil
sebagai bahan rujukan harus dicantumkan dengan jelas. Hal ini berguna untuk
meyakinkan orang lain tentang orisinilitas karya kita disamping membantu orang
lain yang membaca tulisan kita. Seandainya orang lain tertarik, maka dengan
mudah mereka akan merujuk ke bahan bacaan yang kita gunakan.
3.6 Lampiran
Lampiran biasanya digunakan
untuk menampilkan informasi yang agak panjang dan agak mengganggu uraian bila
ditempatkan dalam teks. Lampiran yang umum memuat peta, gambar, tabel, analisis
data, metode analisis kimia dll. Penyajian lampiran diurut berdasarkan urutan
pemunculannya dalam teks. Lampiran juga dibuatkan daftar dan disusun
berdasarkan nomor urut yang ditempatkan setelah daftar gambar
IV.
ATURAN PENULISAN
4.1 Aturan Penulisan Tabel dan Gambar
Umumnya laporan ilmiah berisi
tabel dan gambar yang digunakan dalam memaparkan data. Nomor tabel atau gambar ditulis
dengan huruf biasa (jangan huruf Romawi). Penomoran tabel atau gambar menurut
bab ataupun tanpa menurut bab, tetapi menurut urutan dari 1 sampai selesai.
Judul dari tabel atau gambar harus cukup padat dan dapat memberikan keterangan
tentang data yang tercantum dalam tabel atau gambar.
Aturan
penulisan tabel, antara lain :
a.
Nomor tabel yang diikuti
dengan judul ditempatkan simetris diatas tabel, tanpa diakhiri dengan titik
b.
Tabel tidak boleh dipenggal,
kecuali kalau memang panjang, sehingga tidak memungkinkan diketik dalam satu
halaman. Pada halaman lanjutan tabel, dicantumkan nomor tabel dan kata
lanjutan, tanpa judul
c.
Kolom-kolom diberi nama dan
dijaga agar pemisahan antara yang satu dengan lainnya cukup tegas
d.
Kalau tabel lebih lebar dari
ukuran lebar kertas, sehingga harus dibuat memanjang kertas, maka bagian atas
tabel harus diletakkan disebelah kiri kertas
e.
Tabel yang lebih dari 2
halaman atau yang harus dilipat, ditempatkan pada lampiran
Contoh :
TABEL 12. Rata-rata Biaya Produksi Per Hektar dari Tanaman Padi, 1990-2010
TABEL 6.4
Jumlah Kalori yang Dikonsumsi Menurut Tingkat Usia
Aturan
penulisan gambar, antara lain :
a.
Bagan, grafik, peta, dan foto
semuanya disebut gambar (tidak dibedakan)
b.
Nomor gambar yang diikuti
dengan judulnya diletakkan simetris dibawah gambar, tanpa diakhiri dengan titik
c.
Gambar tidak boleh dipenggal
d.
Keterangan gambar dituliskan
pada tempat-tempat yang lowong didalam gambar dan jangan pada halaman lain
4.2 Aturan Membuat Daftar Rujukan
Jenis bacaan
yang dimasukkan dalam bibliografi atau daftar rujukan, dapat dibagi atas 19
jenis (Nazir, 2005) :
1.
Artikel dalam
ensiklopedi
2.
Buku
3.
Bulletin
4.
Catalog
5.
Bab di dalam buku,
bulletin, monograf atau Year Book (buku tahunan)
6.
Circular atau leaflet
7.
Essei, cerita pendek,
sajak, dan sebagainya
8.
Film
9.
Filmstrip
10. Artikel dalam majalah
11. Monograf
12. Artikel surat
kabar
13. Halaman dalam sebuah buku
14. Pamphlet
15. Proceedings dari kongerensi ilmiah
16. Kaset dan piringan hitam
17. Laporan
18. Thesis, skripsi, dan disertasi
19. Year Book (Buku Tahunan)
Bibliografi atau daftar rujukan
yang disusun harus jelas dan dapat dicari dengan mudah oleh peneliti-peneliti
lain jika peneliti tersebut ingin membaca keseluruhan isinya. Karena itu, daftar bacaan tersebut harus berisi hal-hal
berikut :
-
Nama atau
nama-nama pengarang buku, artikel, leaflet, monograf, dan lain-lain
-
Tahun penerbitan
terakhir
-
Judul,
baik dari buku, monograf, artikel yang digunakan, dan sebagainya
-
Edisi terakhir
-
Volume atau nomor dari
majalah, bulletin, dan sebagainya
-
Halaman
yang dikutip ataupun jumlah halaman dari artikel atau buku
Contoh :
1.
Artikel dalam
ensiklopedia
Coumbe,
C.W. 1854. Unemployment, The Encyclopedia
Americana .
Vol. 27. New York :
American Corporation, pp. 227-228.
2.
Buku
Hasibuan, N. 1982. Pengantar
Ekonomitrika. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Univ. Gajah
Mada.
3.
Buletin
Beath,
O.A., H. F. Eppson and C.S. Gilbert. 1935. Selenium and Other Toxic Minerals in
Soils and Vegetation. Wyoming Agric.
Exper. Sta. Bull. No. 206, 1935, pp. 1 – 55.
4.
Catalog
California Test Bureau. 1945. Catalogue. California: California Test Bureau.
5.
Bab dalam buku, year
book, atau buku kumpulan karangan
Jersild,
A.T. 1954. Aspects of Living and Learning in Infancy. Child Psychology, chapter IV. 4th ed.; New York:
Prentice Hall, Inc., 1954, pp. 69 – 77.
6.
Circular atau leaflet
Flemming,
W.E. 1950. Protection of Turf from Damage by Japanese Beetle Grubs. U.S. Department of Agric. Leaflet No. 290, 1950, pp. 1 – 8.
7.
Essei, cerita pendek,
sajak, dan sebagainya
Galsworthy,
J. 1937. Quality, in A.C. Cooper and D. Fallin (Compiler), Essays, Then and Now. Boston:
Ginn and Company, 1937, pp 19 – 22.
8.
Film
Encyclopedia
Britanica Films, Inc. 1954. Painting
Trees with Elliot O’Hara: sound film, 16 mm. Wilmette, Illinois, 1954.
9.
Filmstrip
Society
for Visual Education, Inc. 1954. Home
Economists and Dietitians; black and white, 48 frames. Chicago, Illinois,
1954.
10.
Artikel dalam majalah
ilmiah
Alonso,
W. 1979. Ketidakseimbangan Kota dan Daerah dalam Perkembangan Ekonomi. Ekon. dan Keu. Indon. Vol 27, September
1979, hlm 331 – 348.
11.
Monograf
Center,
C.S. and G.L. Persona. 1937. Teaching
High School Students to Read: A Study of Retardation in Reading. National
Council of Teachers of English Monograph No. 6. New York: D. Appleton-Century
Co., 1940, pp. 1 – 88.
12.
Artikel dalam surat
kabar
Yayasan
Bentara Rakyat. Harian Kompas No.
279, Tahun 18, 14 April 1983, hlm. 1, kol. 4.
13.
Halaman dari sebuah
buku
Pasaribu, A. 1967. Pengantar
Statistik. Medan: Percetakan Imballo hlm. 57 – 59.
14.
Pamphlet
New
York State Departement of Education. 1943. Exploring
the Environment. Pamphlet No. 3. Albany, New York, pp. 1 – 11.
15.
Prosiding konferensi
ilmiah
Hasan,
I dan M. Nazir. 1981. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penjualan Hasil Padi (Marketed Supply) oleh Petani pada Enam
Kabupaten di Jawa: Suatu Pembahasan. Proceedings
Seminar tentang Marketed Supply Komoditi Padi dan Beras. Bogor: Lembaga
Penelitian ITB, 1981 halm. II. 1 – II. 18.
16.
Tesis, skripsi, dan
disertasi
Montgomery,
R.D. 1974. The Link between Trade and
Labor Absorption in Rural Java: An Input Output Study of Yogyakarta.
(Unpublished Ph.D. Dissertation, Cornell Univ., 1974).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar